Senpai~ Suki Deshita! : Chapter 7


Cerita sebelumnya….
Baca: [Chap 1] [Chap 2] [Chap 3] [Chap 4] [Chap 5] [Chap 6]

@@@

“Sakura, ayo kita pacaran…”

Dihadapanku berdiri seorang lelaki berambut merah mentereng. Tato di sudut kiri dahinya menunjukkan kata ‘cinta’. Seperti aku yang menyukai setiap ekspresi wajahnya. Kagum akan tingkah laku dan kepribadiannya. Terpesona tatapan lembut iris hijau pucatnya. Terbuai setiap belaian dan kata-kata manisnya. Berdebar kala didekatnya. Dan kutahu dengan pasti bahwa setiap detik aku mencintainya.

“Ya!” akan kuterima ajakan itu dengan tegas dan tanpa keraguan.

Aku… Kami berdua saling mencintai dan pasti akan bahagia.

Tapi nyatanya itu hanya dalam anganku saja. Bukan dia. Yang berdiri dihadapanku sekarang bukan Gaara.

“Sakura, ayo kita pacaran…” ucap Sasuke. Kalimat itu terucap dari bibir lelaki berambut raven itu.

Kenapa? Selalu saja seperti ini. Apa yang dilakukannya selalu membuatku terkejut. Mengganggu, mengusikku dengan keangkuhannya. Menimbulkan rasa benci.

Orang ini…

Aku tak pernah mengerti apa maunya…

“Mempermainkanmu sungguh sangat menarik, Sakura.” Dia selalu bilang begitu…

Jadi, mungkin kali ini pun ajakan itu tak lebih dari sekedar permainannya.

@@@
Senpai~ Suki Deshita! : Chapter 7

Chapter: 7/?
Pair: Sasuke Uchiha x Sakura Haruno
Rate: T
Genre: Romance, Friendship, Comfort
Disclaimer: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Length: 5.288 words
WARNING: OOC, AU, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue. Warning inside! *banyak kissu*

Story by
Me!! [FuRaha]

If you don’t LIKE?

Read?

Don’t Read?

Up to You!!!

~Itadakimasu~
*
*
*

Angin berdesir. Suara gemerisik daun di pepohonan mengisi keheningan. Dalam jarak yang masih terpaut dekat, Onyx dan Emerald saling bertatapan. Udara berhembus dingin, tapi entah kenapa pipi dan telingaku terasa panas. Semburat merah tipis pun terlihat diwajah Sasuke. Dia merona. Apa aku juga sekarang terlihat bersemu seperti itu?

“Ki, kita pacaran?” suaraku tercekat mengulangi kalimat itu.

“Hn.”

“Kau dan aku?”

“Hn.”

Aku terkekeh, sungguh merasa geli. “Jangan bercanda. Kau tahu kan aku suka sama siapa, kenapa aku harus pacaran denganmu?”

“Kau masih mengharapkan si Gaara sialan itu? Percuma saja kalau kau terus melanjutkan perasaan yang hanya akan menghasilkan air mata dan luka hati. Dia tak akan pernah menyukaimu. Meski kau berteriak sekuat tenaga, dia tak akan pernah berpaling padamu. Kau tahu apa alasannya, Sakura?”

“Itu, tentu saja karena Gaara sudah bersama Matsuri.” pandanganku tertunduk. Rasanya sakit sekali mengingat kenyataan itu.

Bagai iblis yang memikat mangsa lewat ketampanan dan kata-kata manis, Sasuke terus membujukku, “Aku tahu bagaimana caranya supaya terbebas dari rasa sakit untuk sementara. Akan kubantu kau melupakannya. Jadi ini cukup adil kan, kalau kau sekarang jadi milikku…”

Aku terperangah. Sasuke mengangkat daguku, tanpa permisi (lagi) kembali mengecup bibirku untuk ketiga kalinya.

“Sakura…” bisik Sasuke. Aku mengerjap, menggulirkan mata. Rasanya tak bisa terus menatap lurus Onyx itu. Jantungku berdegup kencang, sementara jemari Sasuke menyeka lembut ujung bibirku yang masih terasa basah usai dikecupnya. “Lain kali, kau pakai lipglos yang rasanya enak itu lagi dong.”

“Hee~…” Aku melohok. Emerald-ku membulat, semampu kelopak mataku membuatnya. Baru saja hendak kulayangkan satu pukulan keras menghantam wajah mesum itu, tiba-tiba harus terhenti karena sahutan seseorang yang suaranya terdengar tak asing bagiku.

“Cie, cie, mesranya…”

Kami berdua langsung terperanjat, lekas berdiri dan jadi salah tingkah ketika menoleh kearah sumber suara itu. Belum beres aku berdebar gugup karena ciuman dan pernyataan Sasuke, sekarang masih harus terkejut dengan kemunculan kedua sosok itu. Kenapa harus mereka?

“Nii-san…” kataku dan Sasuke, nyaris bersamaan. Duo aniki itu berjalan mendekat, sambil senyum-senyum mencurigakan. “Kenapa kalian bisa ada disini?”

“Kebetulan lewat. Kami baru pulang dari Konbini yang di ujung jalan sana.” jawab Itachi sambil menunjukkan bungkusan plastik berisi barang belanjaan. Minuman kaleng dan beberapa bungkus snack. “Hari ini kan giliran kerja kelompok di rumah Sasori. Jadi dari siang tadi markas Akatsuki pindah ke rumahmu lho.”

Sasori mengacak-acak rambutku gemas. “Ugh, kau ini. Dari jauh aku lihat rambut soft-pink indah ini aku sudah tahu kalau itu pasti kau, Sakura.” Aku hanya merengut seraya merapihkan kembali rambutku yang sedikit berantakan dibuatnya. “Ah, ternyata begitu disamperin malah sedang asyik berduaan.”

Itachi merangkul Sasuke, “Main ayunan di taman rasanya bukan gayamu, Sasuke. Coba lihat siapa disini yang lagi kepergok pacaran.” Itachi mencubit pipi Sasuke gemas.

“Urusai…” desis Sasuke, menepis tangan Itachi. “Enak aja, siapa yang pacaran.”

Aku terperangah mendengarnya. Padahal tak sampai 5 menit lalu dia bilang, ‘Ayo kita pacaran’ , Tapi sekarang malah dengan mudahnya membantah. Yah, aku juga tahu kalau dari awal Sasuke tak serius. Sial dan betapa bodohnya aku sempat berdebar mendengar ajakan seperti itu.

“Tapi tadi kalian kelihatan deket banget, lagi apa hayo~…” goda Itachi bikin aku blushing. Jangan-jangan waktu Sasuke menciumku, mereka sudah lihat.

“Eu, itu, sebenarnya, tadi, kami…” aku gelagapan mencari alasan. “Debu. Mataku kemasukan debu. Sasuke cuma bantu meniupnya.”

“Oh ya?” Itachi memicingkan mata, masih menatap curiga. “Di udara selembab ini emang banyak debu berterbangan ya?”

“Eu, kan angin.” jawabku asal. “Anginnya kencang. Bisa saja kan? Hehe.”

“Baka. Alasanmu gak logis banget sih. Bilang saja terus terang, kalau tadi… ” Sasuke mengecap bibirnya. Seolah sedang merasakan sesuatu yang enak disana. Menggodaku.

Aku berikan death glare padanya. Nih cowok apa beneran ingin kasih pengumuman kalau barusan kita habis ciuman? Gila! Padahal tadi dia sendiri bilang kalau kami ‘gak pacaran’. Aku merutuk dalam hati. Kesal. Eh, kenapa aku harus kesal? Karena tak dianggap pacar olehnya? Tidak. Aku kesal karena dia sudah seenaknya menciumku. Sekali lagi. Kalau aku bukan pacarnya, kenapa dia melakukan itu padaku?

“Payah kau, Sasu. Masih belum bisa merebut hati Sakura.” cibir Itachi.

“Begitulah…” jawab Sasuke. “Aku bukan lelaki berambut merah sih.”

“Eh? Sasori dong.” Itachi melirik Sasori yang lagi mengelus-elus rambut merahnya. “Dia kan kakaknya.”

“Jelas bukan aku. Masa sama saudara sendiri.” bantah Sasori, “Kau juga tahu soal si bocah pasir itu Sasuke?”

“Ya, kak Sasori sendiri pasti belum tahu apa yang sudah dilakukannya pada Sakura.”

“Cukup!” Aku menyela. Menghentikan Sasuke bicara lebih banyak.

“Eh, matamu merah, Sakura?” telisik Itachi, “Bahkan sampai sembab gitu, jangan-jangan barusan kamu habis nangis?”

Aku menggeleng cepat, lekas menyeka kedua mataku. “Tidak kok. Aku tak menangis.”

“Jangan bohong, Sakura.”

“Sudah kubilang tidak.” bantahku lagi. Makin aku mengelak, kesedihan dihatiku kembali muncul. Aku melengos, lekas mengambil tas sekolah yang kusimpan disisi tiang ayunan. “Ehm, maaf, aku mau pulang duluan.” kataku seraya melangkah pergi. Kabur karena tak mau membicarakan ini.

“Tunggu dulu, Sakura!”

Aku tak berbalik mendengar panggilan Sasori.

“Heh, baka otoutou, apa kau yang buat Sakura-chan menangis?” tanya Itachi pada Sasuke.

“Ya. Aku yang buat dia menangis.”

Langkahku langsung terhenti mendengar jawaban Sasuke. Sedikit kulirik kembali kearah mereka.

“Apa?! Apa yang sudah kau lakukan pada Sakura?” hadang Sasori pada Sasuke, berbicara dengan nada sedikit tinggi. Kakakku yang over protective itu mulai menunjukkan sikap. Melihat situasi seperti akan memanas, aku kembali menghampiri.

“Tunggu, nii-san. Bukan Sasuke yang…”

“Aku sudah hancurkan puding kesukaannya.” Sasuke cepat menyela, “Tapi kupikir itu lebih baik daripada kelak dia menyesal sudah makan makanan busuk itu.”

Deg!… Kata-katanya barusan sungguh tepat mengenai hatiku.

Sasori dan Itachi saling berpandangan heran. Mungkin tak mengerti maksud perkataan Sasuke. Tapi aku pun tak ingin menjelaskan detail sebenarnya pada mereka. Tanpa banyak bicara, Sasuke mengambil tasnya dan langsung pergi begitu saja. Sekilas kami beradu pandang ketika dia berjalan melewatiku. Sasuke mengangkat sebelah alisnya, mendelik sebal padaku. “Kau payah. Sudah ditolak juga tetap saja…”

“Yeh, tuh anak langsung pergi gitu aja. Hoi, Sasu…” panggil Itachi, berlari mengejar Sasuke. Meninggalkanku bersama Sasori.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Sasori kemudian. “Ditolak itu apa maksudnya?”

Tanganku terkepal, memegang erat tas sekolahku didada. Walau maksud sebenarnya adalah memegang hatiku yang terluka. “Gaara punya pacar.” gumamku pelan.

“Eeh, kau sudah tahu?”

“Sasori-nii tahu itu dari dulu kenapa tak bilang padaku?!” teriakku. Wajah Sasori berubah tegang. Sesaat terdiam dan memilih menghindari tatapanku. “Sejak kapan, kenapa merahasiakannya dariku?”

“Maaf Sakura. Sebenarnya sudah lama. Awal musim panas tahun lalu. Waktu main ke rumah Itachi, aku tak sengaja melihatnya. Dari dulu aku ingin bilang, tapi saat tahu kau bersemangat sekali untuk masuk Konoha demi Gaara, kupikir kau pasti akan terluka kalau tahu yang sebenarnya. Makanya aku diam saja. Aku tak tega kalau melihatmu sampai berputus asa.”

“Hah? Ha ha ha…” Aku tertawa hambar. Menunduk, menutupi wajahku dengan sebelah tangan. Oh, jadi begitu. Aku sungguh merasa bodoh. Sementara aku menyukainya, Gaara ternyata menyukai orang lain. Sementara aku terus memendam perasaan ini, hubungan Gaara dan Matsuri sudah berlangsung hampir setengah tahun. Sementara aku memegang janji itu, Gaara bahkan sudah melupakannya. Jadi selama ini, dari awal aku tak tahu apa-apa. Malah terbuai dan besar kepala atas kebaikan tanpa maksud yang Gaara berikan. Menyedihkan. Betapa sengsaranya diriku atas cinta ini.

“Sakura…” panggil Sasori, terdengar cemas. Perlahan dia mendekapku, mencoba menenangkan. Aku bersender didadanya. “Jangan menangis.” bisiknya seraya mengelus rambutku lembut. Perlakuan seperti ini mengingatkanku pada Sasuke.

Aku tahu. ‘Ayolah, aku mohon jangan menangis lagi.’ teriak batinku dalam hati, menahan kesedihan itu. Dan ajaibnya mantra ini berhasil. Hatiku sakit, tapi sudah tak ada lagi air mata yang mengalir.

“Iya.” Aku menengadah, tersenyum lepas. “Aku tak akan menangis. Tak ada lagi air mataku untuknya.” Kulayangkan pandanganku kearah Sasuke dikejauhan.

‘Terima kasih sudah membantuku menghapusnya.’

@@@

Aku baru saja sampai di sekolah dan bermaksud menaruh beberapa barangku dalam loker saat pandanganku tiba-tiba menjadi gelap. “Coba tebak?!” tanya seseorang yang menutup kedua mataku dari belakang. Jantungku berdegup kencang mengenali suara itu.

“Kak Gaara?!” aku lekas melepaskan kedua tangannya yang menghalangi, berbalik menghadap lelaki berambut merah itu.

“Hehe, ketahuan ya.” cengir Gaara dengan wajah cerianya. Membuat perasaanku jadi tak karuan. Masih saja aku diperlakukannya seperti biasa. Sapaan ramah di pagi hari. Bersikap akrab. Seolah kemarin tak terjadi apa-apa. Hatiku bergetar berada didekatnya. Tak bisa kupungkiri sedikitpun perasaanku tak berubah. Masih menyukainya seperti dulu.

“Ohayou.” sapaku.

“Ohayou.” jawab Gaara sambil tersenyum, “Gimana kabarmu hari ini, sudah merasa lebih baik?” Aku mengernyit, tak mengerti maksudnya. “Yang kemarin, masalahmu dengan Sasuke sudah selesai?”

“Oh, itu…” aku memutar mataku, bingung harus jawab apa. Masalah sebenarnya kan bukan dengan Sasuke, tapi denganmu!… Ugh~ tapi aku juga tak bisa dengan jujur mengatakannya.

“Aku mewakili Matsuri minta maaf padamu.” lanjut Gaara, membuatku terdiam sesaat mendengar nama Matsuri disebutnya, “Dia merasa tak enak. Cemas, takut kau masih salah paham. Aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, tapi tolong maklumi sifat manja Matsuri ya. Dia memang seperti itu.”

“Eh, tak usah sampai merasa bersalah padaku. Ini cuma salah paham kok. Sampaikan pada Matsuri, aku tidak apa-apa.”

“Benarkah? Syukurlah kalau gitu.” Gaara menaruh sebelah tangannya diatas bahuku, “Terima kasih ya Sakura.”

“Heh, kau!” seru seseorang, datang menyela. Aku menggulirkan pandangan melihat Sasuke yang berdiri tak jauh dari kami. Wajahnya datar, dengan tatapan sinis kearah Gaara. “Lain dengannya, aku ini lebih cemburuan lho. Jadi tolong kau sendiri jangan bersikap sok akrab begitu dengan pacarku.” lanjut Sasuke.

Aku melohok mendengar perkataannya yang terkesan serius itu. Gaara lekas menurunkan tangannya dari bahuku dan tersenyum samar. “Maaf. Tapi Sakura sudah kuanggap seperti adikku sendiri sih.”

“Tch, tapi kau kan bukan Sasori.”

“Kau kenal kak Sasori juga?”

“Ya, kami bahkan sangat akrab.”

“Begitu…”

“Hn.”

“Hentikan, Sasuke…” bujukku padanya. Melihat mereka berdua, masing-masing seperti sedang memancing emosi dan bersiap berkelahi.

“Kau…” desis Sasuke, tampak tak suka aku lebih membela Gaara.

“Ya, ya, baiklah.” kata Gaara, “Cukup. Jangan bertengkar cuma karena aku. Mulai sekarang aku akan jaga sikap. Puas kau, Sasuke?”

“Hn.” Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya.

“Huh, melihat kalian berdua sampai cemburuan begitu, sepertinya memang cocok dan saling mencintai.”

“Bukan gitu. Kak Gaara, aku…”

“Baiklah, kalau gitu sampai nanti Sakura.” pamit Gaara sembari berbalik, bersiap pergi.

“Bersikaplah biasa.” kataku kemudian, berhasil menghentikan Gaara sejenak. “Bersikaplah seperti biasanya padaku. Aku juga akan bersikap biasa padamu.”

“Ya.” jawab Gaara sambil mengangguk dan tersenyum. Lantas kembali melangkahkan kaki. Aku terdiam sesaat memperhatikan sosok itu berlalu pergi.

Sasuke mendengus, mendelik padaku. “Lihat. Betapa menyedihkannya dirimu. Kau yakin masih bisa bersikap biasa padanya?”

Aku diam saja. Sasuke benar. Dalam hatiku pun juga merasa tak yakin. Selama aku masih menyukai Gaara, aku sendiri tak tahu cara bersikap biasa padanya sekarang itu seperti apa.
.
.
.
“Pagi.” sapaku dengan tak bersemangatnya masuk ke kelas, lain dengan Ino yang tampak ceria menyambutku, “Pagi Sakura!” Aku melenggang menuju mejaku, meletakan tas dan duduk sambil memangku wajah dengan kedua tangan. Lantas menghela nafas panjang.

“Lho, tampang madesu apaan tuh, harusnya buat yang baru jadian tuh full smile everyday. Kemarin sukses besar kan Sakura?!”

“Ng,…” aku hanya mengangkat sebelah alisku. Ino masih belum tahu kejadian kemarin. Boro-boro jadian, aku malah ditolak mentah-mentah, sakit hati bahkan sebelum kuutarakan perasaanku.

“Sakura…” Menyadari sikapku yang diam, Ino mulai menatap cemas. “Katakan padaku yang sebenarnya!” bentak gadis itu, bicara dengan gaya menginterogasi. “Kemarin kau jadi bertemu Gaara?” Aku mengangguk pelan. “Kau sudah utarakan perasaanmu?” Aku kembali mengangguk, “Diterima?” Aku diam saja. “Jangan-jangan, masa sih kau…”

Aku mengerucutkan bibirku. Masang muka cemberut. “Gaara sudah punya pacar.” ucapku pasrah.

“WHAT THE!” Ino tampak shock mendengarnya. Blue shappire itu membelalak tak percaya.

“Begitulah. Aku ditolak. Meski secara tak langsung.”

“Kok bisa sih? Padahal kan selama ini Gaara perhatian banget sama kamu. Kirain dia juga suka sama kamu, Sakura.”

“Yah, Gaara memang bilang suka, tapi rasa suka yang berbeda denganku. Masa selama ini aku hanya dianggap sebagai adik kelas kesayangannya.” Sedih sekali rasanya kalau ingat hal itu.

“Siapa pacarnya Gaara? Kenapa aku bahkan sampai tak tahu kabar seperti itu?” sebagai ratu gosip Ino merasa bodoh karena tak tahu apa-apa.

“Cewek cantik, berkelas, anak Suna Gakuen.”

“Sekolah putri khusus kalangan atas itu? Wah, levelnya memang beda. Kasian sekali kau.” Diam sesaat. Tampang Ino pun kini tak lebih kecewanya dariku. “Sudahlah, Sakura…” Perlahan dia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat. Matanya menatapku lekat-lekat. “Jangan putus asa. Tenang saja. Pasti kau tak jadi dengannya karena akan ada cowok lain yang lebih baik darinya untukmu. Pasti. Aku yakin. Jadi tetaplah semangat, Sakura!”

“He’eh…” sambil tersenyum, aku mengangguk mantap. Senang sekali rasanya disaat seperti ini ada teman yang masih peduli padaku. “Terima kasih, Ino.”

“Yah, padahal aku sudah bayangkan kita akan double date. Sayang sekali. Cepat cari cowok lain, Sakura.”

“Kau bicara gitu, kayak yang sendirinya udah punya aja.” Aku mencibir, melirik Ino yang kemudian wajahnya bersemu merah. “Eeh? Bohong? Masa sih, apa kemarin kau dan kak Sai…” aku menatap Ino tak percaya, “Kalian berdua udah jadian?”

“Sstt…” desis Ino. Menempelkan jari telunjuknya diatas bibir. “Jangan bikin heboh gitu dong, Sakura. Sebenarnya ini masih belum pasti. Kemarin kak Sai memang bilang suka, tapi aku belum menjawabnya.”

“Eh, kenapa? Kalau kau juga suka kan tinggal bilang ‘iya’.” Aku jadi gereget sendiri mendengarnya.

“Gak bisa gitu dong. Aku ingin buat dia penasaran. Lagipula, selain bakat melukisnya, wajah yang terlihat ramah dan selalu tersenyum itu, bagiku kak Sai masih terlalu misterius. Aku mau lebih dekat dulu dengannya, kalau cocok, baru aku terima.”

“Yah, kau ini masih saja sok jual mahal.” cibirku.

“Biarin, daripada aku dianggap murahan.” balas Ino.

Kami berdua jadinya sama-sama tertawa.

“Oh iya, aku punya kabar lain yang lebih seru. Kau sudah tahu belum?” kata Ino, mulai kembali bersemangat. Miss Gossip yang satu ini lekas mengeluarkan ponselnya, lalu memberikannya padaku. Menyuruhku membuka sebuah file folder foto. Sesaat aku memperhatikan salah satu foto yang dia maksud.

“Tara~ kak Sasuke sudah punya pacar!” teriak gadis itu kemudian.

Aku terbelalak. Tak percaya dengan apa yang kulihat. Foto yang sepertinya diambil dari jarak jauh oleh kamera ponsel itu memang terlihat buram dan tak jelas, tapi bisa dipastikan kalau itu memang potret Sasuke yang sedang memeluk seseorang. Terlihat dari model rambut pantat ayamnya yang unik. Dan jelas aku pun tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itu foto waktu Sasuke memelukku dihadapan Gaara dan Matsuri. Kenapa bisa? Saking terkejutnya, nyaris saja ponsel SAMSUN GALAKSIH milik Ino itu meluncur dari tanganku kalau saja gadis itu tak cepat menangkapnya sebelum membentur meja.

“Waduh, hati-hati dong Sakura. Ini kan mahal. Hadiah ulang tahun dari papa.” protes Ino sedikit kesal, mengelus-elus ponselnya dengan hati-hati.

“Ma, maaf…” kataku lirih. “Foto darimana itu?”

“Gak tau awalnya dari siapa. Aku dapat dari anggota SFC. Kak Sai juga kirim, dia kan OSIS. Kabarnya kemarin ada yang tak sengaja melihat kak Sasuke pelukan sama cewek. Gosip ini hampir menyebar satu sekolah. Apalagi di kalangan SFC.”

“SFC…”

“Iya. Kau masih ingat kan sama kak Karin dan teman-temannya? Bahkan mereka lagi gencar mencari cewek ini. Gak salah lagi, pacarnya kak Sasuke itu pasti salah satu siswi Konoha. Kalau sampai ketahuan, habislah dia. Menurutmu siapa?” Dalam diam, aku hanya menggeleng pelan. “Sakura, tahu kak Sasuke sudah punya pacar kenapa wajahmu sampai pucat gitu?” tanya Ino.

“Hah? Ha ha ha…” aku hanya menyipitkan mata, tertawa hambar. Gak bisa bilang kan kalau cewek di foto itu aku. ‘Duh, bagaimana ini?’, dengusku dalam hati.
.
.
.

Entah kenapa aku merasa hari-hariku belakangan ini terasa berat. Banyak yang terjadi, banyak keterkejutan. Dan sekarang apalagi? Sepulang sekolah, aku diam tak percaya saat gadis berambut cokelat itu dengan senyum cerianya menyapaku dengan sok akrab.

“Hallo Sakura-chan!” ucapnya ramah sambil melambaikan tangan.

“Matsuri?”

“Siapa dia?” bisik Ino sambil menyikutku, menelisik memperhatikan gadis yang baru datang menghampiri kami.

“Pacar Gaara.” bisikku pelan. Membuat Ino yang mendengarnya terbelalak tak percaya.

Matsuri mengulurkan tangannya seraya memperkenalkan diri. “Hai, namaku Matsuri, kau temannya Sakura? Salam kenal ya.”

Dengan ragu, sambil diam-diam sedikit mencuri pandang padaku, Ino meraih tangan itu. “Ino Yamanaka. Salam kenal juga.”

“Kalau kau temannya Sakura berarti kau temanku juga.” lanjut Matsuri yang dibalas dengan tatapan sinis Ino. Memandang gadis itu dari atas hingga ke bawah sambil berkata, “Oh, jadi ini orangnya.”

“Ya?” Matsuri menatap heran.

Menyadari suasananya mulai tak mengenakan, aku pun langsung mengalihkan perhatian. “Ah, Ino, itu kak Sai sudah menunggumu.” kataku sambil menarik Ino menjauh dari Matsuri.

“Eeh, tunggu dulu Sakura?” protes Ino, “Apa maksudnya ini, kenapa kau bisa kenal dan akrab dengan saingan cintamu?” bisik Ino.

“Er, nanti detailnya kapan-kapan aku ceritakan.” balasku. “Sudah ya, sampai besok Ino!” kataku sambil mendorong Ino menyuruhnya cepat pergi. Cewek itu masih mengernyit heran dengan sikapku yang tiba-tiba. Tapi akhirnya dia mengerti, tanpa banyak bertanya lagi memilih meninggalkanku dan Matsuri.

“Hh~…” Aku menghela, seraya kembali ke tempat Matsuri. “Kau datang mencari kak Gaara? Mungkin jam pelajaran di kelasnya juga sudah selesai.” kataku sambil melirik jam tangan.

Matsuri menggeleng pelan. “Bukan. Aku datang mencarimu.”

“Eh, ada apa?” tanyaku penasaran.

“Etto…” Gadis itu sedikit menunduk, memainkan kedua jari telunjuknya, tampak gugup. “Soal yang kemarin aku minta maaf, Sakura.” ucapnya kemudian.

“Ah, itu lagi. Tadi pagi kak Gaara juga sudah bilang. Lupakan saja. Kemarin cuma salah paham.”

“Tetap saja aku merasa tak enak padamu.”

“Tidak. Bukan begitu. Sebenarnya aku dan Sasuke, hubungan kami juga tak seperti yang kau kira.”

“Maksudmu?”

“Hubungan kami baik-baik saja.” sela seseorang. Aku tersentak, nyaris teriak saat mendapati sebuah lengan terjulur melingkar di bahuku. Sosok berambut raven itu berdiri disampingku dengan tampang innocent-nya. “Kubilang kemarin kan sudah selesai. Jadi kalau kau sudah tahu sebaiknya jangan mundar-mandir disini lagi. Muak aku melihatnya.”

“Ih Sasu, jangan sinis gitu dong sama aku…” wajah Matsuri berubah cemberut.

“Iya. Kalau masalahnya sudah selesai, jangan buat pertengkaran baru.” sambung Gaara yang tahu-tahu sudah datang dan mengambil tempat disisi Matsuri. “Jaga ucapanmu pada pacarku!” balasnya pada Sasuke.

Hei, hei, hei… Situasi macam apa ini? GaaMatsu vs SasuSaku. Saling berhadapan dua lawan dua. CTAR!! Dengan suara petir memecah kedua belah kubu ditengahnya…

Plak!… Aku lekas enyahkan khayalan gila itu dari pikiranku.

“Cukup, jangan dibahas lagi.” pintaku.

“I, iya.” Matsuri mengangguk setuju. “Syukurlah kalau masalahnya sudah selesai. Kalian berdua juga sudah baikan lagi kan. Jadi bagaimana kalau hari ini kita pergi makan bersama?”

Membayangkan kami berempat pergi bersama membuatku merinding. Aku lekas menggeleng sambil mengibas-ibaskan tangan. Menolak ajakan itu. “Tidak, terima kasih. Lain kali saja.”

Matsuri menarik kedua tanganku. “Ayolah, Saku-chan, plis~…” rayu gadis itu dengan jurus puppy eyes-nya. “Aku ingin mentraktirmu sebagai ucapan terima kasihku atas pertolonganmu waktu itu dan juga rasa bersalahku yang kemarin. Aku mohon. Untuk sepotong cake dan parfait saja, ya, kau bersedia ikut denganku?”

“Er, tapi aku mau cepat pulang.” kataku beralasan.

“Sasu juga ikut kan?” tanya Matsuri. Langsung ditanggapi Sasuke dengan kerlingan dan gerutu sebal.

“Ayolah Sakura. Dia ini kalau tak dituruti akan terus merengek.” kata Gaara.

Melihat mereka berdua terus membujuk, akhirnya aku pun luluh. “Iya deh.” dengusku pasrah.

“Asyik!” riang Matsuri. “Kalau gitu, ayo cepat kita pergi.” ajaknya sembari menarik lenganku.
.
.
.
Teringat perkataan Sasuke tadi pagi. Sampai dimana aku masih bisa bersikap biasa terhadap Gaara? Aku tahu, aku ini bodoh. Aku masih tak percaya dan dalam hatiku sedikit menyesal. Harusnya tadi aku tak terbujuk ajakan mereka. Sehingga aku tak harus melihat hal yang tak perlu kulihat dan merasa begitu sengsara seperti ini.

Di THE HARVEST Patissier & Chocolatier café kami berempat duduk di bangku samping jendela. Aku duduk disebelah Sasuke, berhadapan dengan Gaara dan Matsuri. Menikmati sepotong cake pesanan kami masing-masing. Rainbow Cheese Cake-ku dengan fress mango and strawberry dalam yoghurt, paduan cheese cake dan vanilla sponge. Matsuri memilih Raspberry Sacher Torte, sacher torte Australia terkenal dengan chocolate mousse dan lapisan raspberry. Sementara para cowok, Sasuke yang tak begitu suka makanan manis memesan Chocholate Truffle, moist flourless chocolate cake dengan kacang mende dan whipcream vanilla. Itu pun tak benar-benar dia makan dan tetap tampak lebih menikmati segelas fress tomato juice favoritnya. Sedangkan Gaara kelihatannya suka dengan Pistachio Dacquois, paduan cake mint dengan white chocolate mousse dan kismis merah.

Aku merasa resah, duduk dengan tak nyaman memperhatikan kemesraan Gaara dan Matsuri didepanku. Sesekali mereka bercanda, saling menyuapi sesendok cake dan menyeka sudut bibir yang belepotan krim.

Tidak!!… rengekku dalam hati ketika melihatnya.

“Kau mau aku lakukan itu untukmu?” gumam Sasuke sambil terkekeh, yang langsung kubalas dengan delikan kesal. Sudah tahu aku sedang dongkol, masih saja dia coba menggodaku.

“Tidak. Terima kasih.” kataku padanya.

“Hei, kalian berdua kenapa diam-diam aja sih daritadi?” tanya Matsuri. “Apa benar kalian sudah baikan?”

“Haha, iya…” Aku sedikit menyunggingkan bibirku, tersenyum kaku. Ayolah, sampai kapan terus begini. Dalam hati aku ingin ungkapkan semuanya. Bahwa Sasuke itu bukan siapa-siapa. Orang yang kusukai adalah Gaara. Dan aku membencimu, Matsuri. Tapi itu semua tak bisa kukatakan.

Aku suka saat langit berubah senja. Memperlihatkan jingga yang indah. Berpadu dengan warna rambut merahnya. Sosok berbadan tegap itu semakin terlihat mempesona. Tampan. Dengan senyum dan wajah cerianya yang selalu membuatku berdebar. Aku berharap bisa terus berada disisinya. Tertawa bersamanya. Berjalan bergandengan dengannya. Lukisan indah itu selalu ada dalam khayalanku. Setiap saat aku berharap hal itu bisa terjadi.

Tapi tentu saja tidak seperti ini. Hal yang aku bayangkan terwujud dengan jelas dimataku. Langit senjanya. Jingga dan merah. Senyumannya. Wajah cerianya. Tawanya. Gandengannya. Sekarang nyata ada dihadapanku. Tapi itu bukan aku. Bukan aku yang berada disisinya. Tempatku dalam khayalanku itu diambil oleh gadis itu. Disisinya sekarang ada dia. Matsuri. Dan bukan aku.

“Wah, senangnya. Lain kali kita berempat datang kesana lagi yuk Sakura?!” ucap Matsuri. Dia tampak gembira dan senang menikmati selang waktu yang telah kami habiskan di Harvest tadi.

Cukup berbasa-basi. Membicarakan banyak hal tak penting selagi menikmati cake fashionably delicious. Dan sebagai tambahan, aku juga diharuskan melihat tontonan memuakan antara Gaara dan Matsuri yang tampak mesra dan saling mencintai itu.

“Kau ini ternyata hebat juga ya.” kata Sasuke yang berjalan disebelahku. “Masih bisa tahan melihat mereka.” Sasuke menunjuk dua orang didepan itu dengan dagunya.

Aku menghela nafas panjang, “Kan sudah kubilang, aku akan bersikap biasa.”

“Sungguh tidak merasa sakit hati?”

“Ck~ kau sendiri, tidak kesal melihat Matsuri?”

“Hn.” Sasuke mengerling. Dahinya sedikit berkerut, “Kenapa aku harus kesal?”

“Yeh, kan kau bilang kau suka pada Matsuri.” aku sedikit memelankan suaraku. “Kau bilang Gaara sudah merebut gadis yang kau sukai.”

Sasuke terkekeh, “Tapi aku kan tak bilang kalau itu Matsuri.”

“Hah? Kalau bukan dia lalu siapa?”

“Kau.” jawab Sasuke singkat. Buatku mengernyit heran. Tak mengerti maksudnya. Kenapa aku?

Diam sesaat. Sasuke hanya senyum-senyum tak jelas sambil memainkan rambut belakangnya yang seperti pantat ayam itu. Aku berdecih, kesal dicuekin. Memandang kedepan pun rasanya makin kesal, saat gandengan itu berubah jadi rangkulan mesra. Gaara dan Matsuri tampak makin menikmati perjalanan ini tanpa tahu aku yang dibelakang sakit hati.

“Kalau kau mau, memohonlah padaku.” kata Sasuke kembali membuka pembicaraan.

“Apa maksudmu?”

“Kubilang aku bisa menghapus rasa sakit hatimu. Kau tak ingin tunjukan pada Gaara bahwa kau bisa bahagia? Buat dia menyesal sudah mencampakanmu.”

“Dia tidak mencampakanku.” sanggahku, mengoreksi.

“Sama saja, Jidat!” kata Sasuke, “Eh, rasanya udah lama aku tak memanggilmu Jidat, hehe. Kangen juga.”

“Hih,…” aku bergidik. Cemberut. Sedikitpun kejahilan orang ini tak berubah.

“Hei, Sakura. Kita naik itu yuk!” ajak Matsuri, menunjuk sebuah ferris wheel.

Langkahku terhenti, menengadahkan kepala memandang kincir besar itu. Dalam hati, jujur saja aku pun ingin menaikinya. Penasaran duduk 20 menit, berputar melewati setiap ketinggian dalam gondola tembus pandang yang pastinya menyajikan pemandangan kota menakjubkan dari atas sana. Maka saat Matsuri menarik tanganku pun aku tak menolak.

Tak lama mengantri, akhirnya kami berempat kebagian masuk ke salah satu gondola. Seperti biasa, dua sejoli itu duduk berdampingan. Sedangkan aku tentu saja disebelah Sasuke. Masing-masing dari kami saling berhadapan.

“Waa~… takut.” rengek Matsuri manja, seraya menggandeng erat lengan Gaara ketika gondola itu mulai bergerak dan sedikit bergoyang.

“Hahaha. Biasa aja kali. Gak usah takut. Kan ada aku.” kata Gaara so sweet, mencoba menenangkan pacarnya.

‘Tch,…” Aku berdecih, mendengus dalam hati ketika melihat mereka kembali bermesraan. ‘Jangan protes dan menyesal Sakura. Ini pilihanmu.’ Kutepis sebentar pikiran itu. Aku sungguh ingin menikmati pemandangan yang terlihat dari atas gondola ini.

“Indahnya…” Aku berdecak kagum, terpesona menyusuri jalanan, atap rumah, gedung-gedung, aliran sungai, hamparan kota yang semuanya jadi terlihat kecil. Di ufuk barat sana bayangan bulatan orange tampak memudar. Terhalang awan-awan kelabu yang membuat langit menjadi suram. Kelap-kelip lampu pun mulai menyala. Menandakan hari siang bersiap berganti malam.

“Akhirnya kau bisa tersenyum juga.” kata Sasuke.

“Hn.” Aku sedikit melirik padanya. Tak kukira dia akan berkata seperti itu padaku. Dia menyadari beratnya perasaanku hari ini sehingga aku tak benar-benar tersenyum tulus pada siapapun juga dari tadi.

“Ah, jangan gitu dong Gaara~…”

Perhatianku kembali terusik. Sesaat terbuai keindahan senja, aku nyaris lupa kalau disini juga ada mereka. Terkikik geli, asyik bercanda, saling menggoda dan semakin mesra. Aku terdiam. Baru kusadari kalau gondola ini tempat yang begitu sempit. Lain dengan satu meja café tadi. Sekarang aku berada sangat dekat dengan mereka. Sampai rasanya aku bisa dengan mudah menyentuh keduanya kalau kuulurkan tanganku. Gaara. Dihadapanku sekarang ada Gaara.

Kiss me…” kata Matsuri.

Deg!… Jantungku berdebar mendengarnya. Apalagi saat melihat gadis itu mengangkat wajahnya menghadap Gaara. Semburat merah tipis mulai terlihat di kedua belah sisi pipi pemuda itu, tak kalah merah dengan rambutnya.

“Disini?” Sambil tersipu malu Gaara melirikku dan Sasuke.

“Hmm,…” Matsuri kembali mendesak. Sampai kedua bibir itu akhirnya bertemu dan saling melumat sesaat.

Bagai menabur garam diatas luka. Menusuk tajam hingga kedalam. Melihat itu semua, aku hanya bisa diam. Menahannya. Selama ini aku yang tersenyum bila mereka tersenyum, tertawa bila mereka tertawa, berpura-pura seolah tak apa-apa. Padahal sebenarnya merasa sakit. Sangat sakit. Luka di hatiku kian menganga. Lalu masih sanggupkah aku bersikap biasa? Masih sanggupkah aku menahannya? Kurasakan ada sesuatu yang bergejolak dalam dadaku. Amarah disertai rasa kecewa. Sakit luar biasa. Entah apa ini, semuanya bercampur menjadi satu.

Aku membeku. Menyaksikan mereka berciuman. Diatas pangkuan kukepal kuat-kuat kedua tanganku. Berharap bisa menahan rasa sakit ini. Namun kulihat pandanganku mulai buram, terhalang cairan bening yang entah sejak kapan telah berkumpul di atas iris Emerald-ku.

Nyaris sebelum itu mendesak turun, tubuhku lekas ditarik Sasuke kedalam pelukannya. Dia meredam tangisku di dadanya. Sekuat mungkin aku pun berusaha menahan diri untuk tak terisak.

“Lho, Sakura kenapa?” tanya Matsuri. Sepertinya mereka sudah selesai berciuman dan jadi heran melihatku tiba-tiba begini lagi. Lewat sudut mataku pun aku masih tak sanggup melihat wajah Gaara.

“Sakura,…” bisik Sasuke di telingaku, “Kalau kau mau, katakan padaku.”

Aku menengadah, menatap wajah Sasuke lekat-lekat. Tanganku yang terkepal kini mencengkram erat baju kemejanya. “Iya, aku mohon, Sasuke. Hapus kesedihanku.” bisikku lirih.

Satu senyum tipis terlukis di wajah lelaki tampan berambut raven itu. Tatapannya berubah lembut. “As you wish…” balas Sasuke seraya mendaratkan bibirnya diatas bibirku.

Aku terperangah. Tak menyangka ini yang akan dilakukannya. Begitupun dengan Gaara dan Matsuri. Kali ini giliran mereka yang terpaku. Aku mulai mengerti apa maksud Sasuke dan memilih menutup kedua mataku. Pasrah.

Membiarkan Sasuke menciumku. Merasakan sentuhannya. Ketika jari-jari tangan itu menyusup masuk menyibakkan rambut belakang telingaku. Merengkuh wajah ini. Memperdalam dekapannya. Mengecap bibirku. Menggulumnya. Membiarkan lidah kami saling bertemu. Bertukar saliva. Sementara setiap degup jantung ini, sentuhannya, getaran dalam diriku menyatu dengan Sasuke. Melakukan ciuman lebih dalam, lebih mesra dari sekedar menempelnya bibir Gaara dan Matsuri tadi.

Nafasku sesak. Padahal aku sudah mendorong-dorong dada bidangnya, tapi Sasuke masih tak mau melepaskanku. Barulah saat kami berdua mulai kehabisan pasokan udara, akhirnya dia mengakhiri ciuman itu seraya memberikan kecupan singkat dikeningku sebagai penutup.

Dalam diam, disela mengatur nafas yang masih terengah, Sasuke menyeka ujung mata, pipi dan bibirku. “Kau suka?” bisiknya lembut. Aku sungguh tak bisa berkata apa-apa. Menggulum senyum dengan wajah yang memerah, mungkin sudah seperti kepiting rebus.

“Haa~… ya ampun, ternyata kalian bisa semesra itu juga.” cengang Matsuri setelah semuanya selesai. “Duh, bikin iri nih. Iya kan Gaara?”

“Oh, I, iya…” jawab Gaara. Lekas menghindar, melemparkan pandangan ke sisi lain gondola. Sikapnya berubah jadi sedikit aneh.

“Gitu dong, dari tadi, tunjukan kalau kalian berdua ini pacaran.” lanjut Matsuri.

“Iya. Akan selalu kami tunjukkan didepan kalian berdua. Sampai merasa iri dan menyesal. Benar kan, Sakura?” kata Sasuke, membelai rambutku lembut.

“Hn.” Aku tersenyum samar. Menyembunyikan diri dalam dekapan Sasuke. Sebentar kulirik Gaara di depan sana yang menatap kami penuh rasa tak suka. Entah kenapa aku puas melihat ekspresinya itu.

‘Aku harap kau cemburu…’

@@@
TBC……… next to chapter 8
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bachot Session from Author:

Whaa~ Chapter 7 publish (^-^)/ Hore!!… *tabur bunga di kuburan (?)*

Maaf ya agak lama. Molor mpe seminggu lebih dikarenakan miskin ide. Dan giliran mau publish pun modem mendadak bermasalah, duh~…

Tapi syukurlah satu chapter ini pun akhirnya selesai. Dan diluar dugaan kenapa ceritanya jadi mengarah menuju rate M gini? Hmm, otak Author lagi rada mesum, fufufu~ Mengingat selama pembuatan mpe teriak-teriak GaJe, ketawa-ketawa sendiri oleh khayalan gila nan laknat ini…

Berulang kali berpikir, “Apa adegan ciumannya sudah cukup HOT?” #plaakk… (~_~) …

Tapi semua ini sudah diuji terlebih dahulu oleh Author bersama Sasuke dalam genjutsu-nya… wkwkwk~ ngarang *langsung di chidori* … Biar saja, yang penting Author HAPPY :D #Sluurp *ngelap ujung bibir* …
hihihi~ p-a-r-a-h…

Entah apa cerita Fic ini malah jadi aneh ya… pokoknya saya suka SasuSaku… A~Ye (^-^)/

Kasih spoiler chapter 8? Hmm, baiklah…

~~~~~~~~~~~~~ *Yang gak suka silahkan lewati* ~~~~~~~~~~~~~

“Tumben kau tak marah, menyesal atau menolakku seperti biasa.”

“Nyata? Sandiwara? Aku bahkan tak peduli jika ini sekedar permainanmu. Selama kesedihan itu terhapuskan. Luka ini terobati. Dan aku bisa melupakan orang itu. Aku rela melakukannya denganmu.”

“Jangan sampai menyesal, Sakura. Kau tahu kan aku tak sebaik itu…”

“Entahlah. Hanya saja belakangan ini aku jadi sering memikirkanmu. Aku merasa Sasuke bukan orang yang tepat bagimu…”

“Tidak mungkin kan kak Gaara cemburu pada Sasuke. Bukankah di hatimu hanya ada Matsuri seorang?”

“Kau yang bernama Sakura Haruno…”

“Si, Siapa? Mau apa kalian? Lepaskan aku!”

Luka ini berdenyut. Seluruh badanku terasa sakit. Perih. Bau darah. Dingin. Aku menggigil. Siapapun. Tolong hentikan. Sasuke… Sasuke…

“Jangan pernah lagi berani menyentuh pacarku, camkan itu baik-baik!”

“Maaf sudah membuatmu terluka. Mulai sekarang aku akan lebih menjagamu. Hal seperti ini tak akan pernah terulang lagi. Aku janji…”

“Aku tak mengerti. Kenapa kau rela melakukan semua ini? Apa kau mencintaiku?”

Aku melohok melihat Sasuke mulai merayap naik ke atas tempat tidur dan perlahan mendekatiku. “Ma, mau apa kau?” kataku takut-takut bersembunyi di balik selimut….

“Ini salahku. Aku sudah bilang aku akan bertanggung jawab, Sakura.”

“Aku tak peduli meski kau ini seorang Uchiha, adiknya Itachi dan pacarnya Sakura. Berani berbuat yang tidak-tidak pada adikku, akan kubunuh kau!”

“Sasuke, bagaimana ini, sepertinya aku…”

Gawat, kak Sasori lihat…

Bletak!…. Sasuke kena jitak.

“Aw~…” ringis cowok itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ada apa ya di chapter 8 nanti, fufufufu~

Dan sepertinya menurut perhitungan sementara, kemungkinan Fic ini akan tamat di chapter 10 ^-^ hehe~… jadi tolong bersabar mpe saat itu tiba…

OK,Terima kasih banyak Author ucapkan kepada seluruh pembaca m(_ _)m …

This chapter special for YaYak, sv3p, Kazunarilady, kimsongeum, Yua-Yuki Bento Gobel dan kamu yang udah baca Fic ini tapi gak comment…

Author ingatkan bahwa Readers yang baik adalah yang comment, hehe~ *ngarep*

C U next chap (^-^)/Abayo~