P R E C I O U S : Chapter 4


Cerita Sebelumnya…. Baca [Chap 1][Chap 2][Chap 3]

Apakah sesuatu yang hilang masih bisa ditemukan kembali? Hal yang sama, namun berbeda. Beda, tapi rasanya sama. Saling mencari, saling menemukan. Bukan itu yang mereka cari, tapi itulah yang mereka temukan.

=0=0=0=0=0=

P R E C I O U S : Chapter 4

sasuke_and_sakura_by_annria2002

Chapter: COMPLICATED

Pair: SasuSaku
Rate: T
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Disclaimer: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
Length:  6.525 words
WARNING: AU, OOC, typo, blushing scene, alur GaJe cerita se-mau-gue.

Story by

FuRaHa

~Itadakimasu~

.

.

.

.


“Aah, gawat. Dimana? Dimana? Dimana kalungku?!”

Gadis itu panik. Dibongkarnya semua tempat dalam kamar yang mungkin ada ketika dia sadari benda itu hilang. Merutuk dalam hati, bagaimana mungkin dia sampai seceroboh ini menjaga sesuatu yang begitu dia perhatikan dan simpan baik-baik. Ada apa dengannya hari ini, ketika dia alami banyak kejadian tak terduga. Seperti pagi tadi, tak biasanya dia sampai lupa pakai kalung itu. Begitupun ketika mendadak rantai kalungnya putus dan terjatuh―nyaris hilang―tapi untung saja Sasuke menemukannya.

“Ah, Sasuke…”

Sakura teringat lelaki asing yang mirip dengan Itachi itu dan segera berlari keluar rumah menuju tempat dimana terakhir kali dia ingat, di beranda kamar Sasuke, Sakura yakin dia masih memakai kalung itu saat berkunjung tadi siang. Mungkin saja tak sengaja kalungnya terjatuh di sana.

Tok tok tok… Ceklek

“Kalung, kau lihat kalungku?!” serang Sakura tanpa basa-basi begitu lelaki tampan berambut raven chicken butt itu membukakan pintu. Masih dengan ekspresi datar, Sasuke hanya memiringkan sedikit kepalanya dan menatap Sakura bingung. “Kalungku! Yang tadi pagi, kau tahu kan?!” gadis itu coba jelaskan. “Yang bentuknya kipas. Warnanya merah-putih. Yang ada ukiran huruf S di belakangnya. Kalung punyaku. Kalung Uchiha milikkuuuu…” rengeknya. “Kau lihat?!”

“Tidak.” jawab Sasuke.

“Aaargh, bohong! Dimana?!” teriak Sakura frustasi, kemudian saking tak terima kalau sampai kehilangan benda itu diapun langsung menerobos kamar Sasuke lantas mencari-cari ke sekeliling tempat. Sampai ke beranda tempat terakhir dia datangi juga tapi ternyata memang tak ada. “Kenapa… kenapa… kenapa sampai hilang?! Bodoh! Bodoh! Dimana siiih…” kesal Sakura, gusar merutuki diri sendiri. Mencak-mencak, mengeluh sambil menahan tangis. “Bagaimana ini… kok bisa hilang sih… aduuuuh… kalungkuuu…”

“Hn.”

Sementara itu Sasuke hanya diam memerhatikan. Jujur, dalam hatinya kini merasa puas melihat Sakura seakan menderita seperti itu. Hanya karena kehilangan sebuah kalung? Kalung Uchiha miliknya?

Setelah beberapa saat, “Heh, barang yang kau cari tak ada kan?” tanya Sasuke datar. Masih menunduk, Sakura hanya mengangguk pelan. Dirinya benar-benar kecewa. Tak tahu lagi kemana harus mencari kalung itu kalau di sini saja ternyata tak ada. Apa benar-benar sudah hilang?

“Maaf,” ucap Sakura lirih, “Maaf sudah mengganggu dan merepotkanmu. Permisi.” Gadis itu berjalan lesu menuju pintu keluar. Sebelum pergi sesaat langkahnya terhenti dan kembali berbalik menatap Sasuke, “Aku mohon…” ucapnya tiba-tiba. Sasuke perhatikan emerald itu tampak basah, “kalau kau temukan kalungnya, tolong berikan padaku. Itu benda paling berharga bagiku.” Lelaki itu tetap diam tak menjawab. “Tolong kembalikan padaku, ya?” tanya Sakura sekali lagi, benar-benar memohon.

“Hn.” Dan begitulah respon Sasuke, masih tanpa ekspresi.

“Terima kasih.” lanjut Sakura sambil berlalu dia berikan sedikit senyuman tipis yang mengembang kaku di wajah cantiknya.

Blamm

Diam sesaat. Sasuke mendengus mengingat kejadian barusan. Dia rogoh saku belakang celana jeans-nya, menarik seuntai rantai perak dengan liontin berbentuk kipas dari dalamnya. Kalung Uchiha yang dicari-cari Sakura itu nyatanya memang dia yang pegang sekarang. Tanpa bermaksud memberikan kembali pada pemiliknya.

sasuke-smirk

“Lho, kau kenapa Sakura?” tanya Gaara pagi itu saat mendapati wajah sayu nan murung Sakura tampak jelek di hadapannya.

Padahal yang selalu dinanti Gaara setiap hari adalah senyuman manis yang memancarkan kebahagiaan dari wajah cantik gadis itu. Dia menikmatinya. Bercengkerama bersama Sakura adalah momen penting dalam hari-harinya. Gaara suka melihat Sakura tertawa, tersenyum tulus padanya. Senyuman yang membangkitkan perasaan kuat di hatinya. Semakin tumbuh untuk lebih menyukai gadis itu dan melindunginya, berada di sisinya. Itulah yang diharapkan Gaara selama ini. Dan melihat satu kali saja tak ada lengkungan yang mengembang pada bibir gadis musim semi itu membuatnya ikut merasa resah. Meski jauh di dalam lubuk hatinya, entah dia harus syukuri keadaan ini atau tidak, karena justru di saat lemah seperti inilah dia sadari dia selalu memiliki kesempatan itu. Kesempatan untuk mengisi celah kosong di hati Sakura yang terluka.

“Gaara~ kalungku hilang. Kemarin kau melihatnya tidak? Gimana nih…” Gadis itu merengek manja saat dirinya dijemput seperti biasa pagi ini oleh Gaara. “Itachi… Itachi…” selalu yang disebutnya adalah nama lelaki itu, “hik-hik-hik―itu satu-satunya barang kenanganku dan Itachiiii…” kelemahan Sakura, kesedihannya, penderitaannya karena Itachi―adalah kesempatan Gaara.

Gaara_and_Sakura___How_and_Why___by_Daminitri

“Sstt, sudah. Sudah. Tenang dulu, Sakura. Itu cuma kalung kan? Kalau hilang, apa boleh buat. Kau tak bisa simpan selamanya.” ucap Gaara menenangkan seraya menghapus jejak air mata di pipi ranum itu. Tak lama, karena masih saja Sakura menangis, lekas dia rengkuh tubuh kurus yang gemetaran itu masuk dalam pelukan. “Heh, nanti kita cari sama-sama. Atau aku belikan yang baru ya?”

“Nggg~ tapi itu kalung Itachi. Gak akan bisa diganti. Bantu aku cari yaaa…” pinta Sakura. “Aku harus menemukannya. Pokoknya harus kalung ituuuu…”

“Mau cari kemana lagi? Tak mudah menemukan benda kecil begitu. Mungkin saja sudah hilang atau terjatuh entah dimana. Atau ada orang lain yang menemukannya. Jadi biarkan saja. Sama seperti dia yang sudah meninggalkanmu, Sakura.”

“Tapi, kalungku…”

“Sstt…”

Selalu. Dan memang selalu seperti ini. Hanya di saat Sakura lemah seperti inilah Gaara punya kesempatan memengaruhinya. Seakan mengambil peran jahat dia sengaja melakukannya. Sebisa mungkin merubah pikiran dan perasaan gadis itu. Buat Sakura berputus asa tentang si Uchiha brengsek itu. Lelaki yang beraninya menyakiti hati gadis yang dia cintai. Bahkan setelah bertahun-tahun sosoknya menghilang, tapi itu tak berarti lenyap dari hati dan pikiran Sakura. Ah, tapi justru karena rasa sakit itulah Sakura bisa berlari padanya.

Memang tak sepantasnya manusia berpuas diri di atas kesedihan orang lain. Tapi jujur saja, kalau hal seperti ini terjadi, terlebih itu untuk sesuatu yang lama kau nanti, dalam hati kau pasti akan merasa senang melakukannya, kan? Dijadikan tempat pelarian pun tak apa.

Tak ada lagi penghalang.” pikir Gaara, pastinya begitu. “Setelah kalung itu hilang, sekarang Sakura akan dengan mudah menjadi milik…”

Tap… tap… tap…

Mendengar gema derap langkah kaki yang menuruni tangga kian mendekat, refleks Sakura lepaskan pelukan Gaara. Pale green dan emerald bergulir, bersiborok dengan manik onyx yang kelam. Sosok pemuda raven itu muncul. Sikap dinginnya tampak biasa. Wajar bagi orang asing seperti Sasuke untuk tak memedulikan apa yang meraka lakukan sebelumnya. Berpelukan di lorong jalan. Bukan urusan dia. Tapi bagi Sakura, melihat Sasuke di hadapannya seperti ini anehnya malah menimbulkan perasaan lain. Dirinya seolah terintimidasi pemuda itu. Tatapan matanya, sikapnya, helaian ravennya, sosoknya yang berlalu, melintas begitu saja seraya ucapkan satu kalimat yang dengan pelan namun tajam dia bisikkan ke telinga Sakura saat mereka berpapasan membalas salam Sakura.

Ohayou~ Sasuke-kun…”

“Puas kau sekarang?!” balas Sasuke dan itu bikin jidat lebar Sakura mengernyit.

“Ekh, apa maksudmu?” Sakura balik bertanya, tapi Sasuke hanya sunggingkan sedikit sudut bibirnya dan terus melangkah. Merasa diacuhkan lekas saja Sakura kejar dan menghadang pemuda itu dari depan. “Tunggu! Puas apanya?” Gadis itu menengadah, memandang wajah lelaki yang jauh lebih tinggi di hadapannya itu. “Aku tak akan puas sampai kutemukan kalungku. Kau berhasil menemukannya? Katakan padaku!”

“Tidak.” jawab Sasuke singkat.

“Tidak apa? Tidak kau temukan atau tidak akan kau berikan?”

“Tidak keduanya. Lagipula apa peduliku. Kau juga kan? Meski benda itu hilang sepertinya kau akan dengan mudahnya dapat yang baru.” Onyx bergulir mendelik sosok Gaara yang dibelakang berjalan menghampiri mereka. “Makanya kubilang kau pasti puas sekarang.” lanjut Sasuke sambil lalu.

Deg―penekanan kata ‘puas’ barusan langsung merasuk ke dalam hati Sakura. Gadis itu terpaku sesaat menatap Sasuke dari belakang, sampai Gaara membuyarkan lamunannya. Tak sengaja, refleks dia depak tangan Gaara yang hendak menyentuh bahunya.

“Eh, maaf.” ucap Sakura tak enak hati saat dia sadari tindakannya.

“Kau kenapa?” heran Gaara. “Apa yang dikatakannya?”

“Uhm, tidak. Bukan apa-apa.” Sakura menggeleng pelan. Dia gigiti bibir bawahnya, enggan jelaskan, karena Sakura sendiri tak mengerti. Entah kenapa dia merasa sedikit sesak di dada sekarang.

Kenapa barusan… ‘puas kau sekarang’… mendengar tuduhannya itu, kenapa aku merasa seperti dimaki oleh Itachi?” batin Sakura ketika mengingat Sasuke.

sasuke-itachi


kakashi-formalbigwtag_original

“Yo, apa kabar?” sapa pria berambut perak dengan masker menutupi setengah wajah tampannya itu saat Sasuke membukakan pintu. “Kau hidup dengan nyaman di sini?” tanya Kakashi seraya berjalan masuk dan melihat-lihat keadaan sekitar.

“Hn, yah begitulah, hoaamm…” jawab Sasuke sekenanya sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan saat menguap. Dengan wajah mengantuk dia edarkan pandangan ke arah jam dinding yang menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Hari libur memang bikin malas dan kalau bukan karena bunyi bel Kakashi yang berisik tadi, si bungsu Uchiha itu mungkin tak akan beranjak dari atas ranjang.

“Untuk apa kemari?” tanya Sasuke kemudian, lantas mengambil tempat duduk di meja makan dimana Kakashi sudah letakkan sebungkus nasi kotak yang sekalian dibawanya hari ini.

“Apa lagi? Aku berkunjung untuk memastikan keadaanmu, tuan muda Uchiha.” jawab Kakashi sambil terkekeh dan langsung Sasuke balas dengan tatapan sebal onyx-nya.

“Kau kira aku anak kecil dan tak bisa hidup mandiri?” protes Sasuke.

Kakashi mengangguk, “Yupz, kau kan memang masih bocah, hehe…”

“Tch, pergi sana dan tak usah mengawasiku!”

“Hei, hei, itu memang tugasku. Kau tahu kan aku juga tak suka. Berhubung Fugaku-jisan yang minta, aku bisa apa selain melaksanakannya. Makanya dibilang Mikoto-basan kau tak boleh pergi jauh-jauh ke Konoha, masih saja berontak kan? Jadi, jangan berlagak, Sa-su-cake~…” dengan gemas Kakashi acak-acak helaian rambut raven chicken butt itu.

“Heh, sudah hentikan, senpai!” gerutu Sasuke berlagak kesal. Cepat-cepat menyingkirkan tangan Kakashi dan kembali merapihkan tatanan rambutnya yang khas.

“Huuu~… dasar pantat ayam.” cibir Kakashi.

“Apa eh, rambut ubanan!” balas Sasuke.

“Potong rambutmu sana. Klimis dikit kek, cerminkan sosok intelek mahasiswa jenius. Atau mau gondrong sekalian seperti kakakmu, eh?” Kakashi lekas kunci mulutnya ketika dia keceplosan bicara menyinggung soal Itachi.

“Hn, tidak.” tolak Sasuke, mendadak melunak. “Khusus untuk rambut, aku tak akan meniru gaya kakak.”

“Oh ya?”

“Ya, jadi terserah aku dan jangan sok mengaturku mentang-mentang kau disini bertindak sebagai waliku.”

“Hmm, iya deh iya.” Sambil mengangguk-angguk Kakashi akhirnya mengalah. “Dasar, kau ini sebenarnya hormat padaku atau tidak sih…” dengusnya heran.

Lalu selama beberapa menit, sambil Sasuke nikmati sarapan sekaligus makan siangnya dengan akrab mereka berbincang sambil sesekali bercanda. Kehadiran Kakashi bagi Sasuke mungkin tak akan menggantikan sosok Itachi dalam hidupnya, tapi disaat-saat tertentu, dia memang butuh seseorang disampingnya untuk menyingkirkan rasa sepi.

“Eh Sasu, kau sudah punya pacar?” tanya Kakashi tiba-tiba.

Sasuke mendelik sebelum memutar matanya bosan, “Apa urusanmu?”

“Cuma tanya. Kau kan tampan, di kampus pasti sudah punya banyak fans.” Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya. “Gadis Konoha cantik-cantik, beda dengan di Iwa, ada yang buatmu tertarik?” lanjut Kakashi.

Bicara soal gadis yang buatnya tertarik, pikiran Sasuke langsung teringat Sakura. Tapi bukan ketertarikan yang mengarah pada rasa ‘suka’ melainkan ‘benci’. Ya, satu-satunya alasan dia berada di sini jelas karena gadis itu kan, juga karena Itachi.

“Err Sasuke, sebenarnya aku kemari karena ingin meminta bantuanmu.” ucap Kakashi berubah serius. Dia sodorkan sebuah amplop berwarna kuning gading kehadapan Sasuke, “Malam ini para pengusaha dari berbagai perusahaan besar akan berkumpul di sebuah pesta pertunangan yang akan diselenggarakan di Grand Konoha Royal Hotel. Aku ingin kau datang kesana sebagai perwakilan Uchiha. Akan kusiapkan segalanya. Kalau kau mau, kau juga bisa ajak seseorang untuk menemanimu.”

“Hah, untuk apa? Jujur aku sama sekali tak tertarik dengan acara pesta semacam itu. Kenapa bukan kau saja yang datang?”

“Eh, aku juga akan datang. Tapi aku butuh kau. Sebenarnya di acara kali ini suasananya lagi bagus buat dipakai negosiasi pengajuan proposal proyek Uchiha selanjutnya pada perusahaan lain. Sekali ini saja tolong bantu aku, ya, ya, ya?” mohon Kakashi. “Dulu Itachi juga sering melakukannya. Nanti tugasmu itu cuma datang, sapa mereka, bersikap ramah dan bersahabat, ngobrol biasa aja, sisanya biar aku yang teruskan.”

“Tidak.” tolak Sasuke, “Kau lakukan saja sendiri. Apalagi cuma buat disuruh basa-basi begitu, aku tak mau.”

“Ayolah, pliiiissss… sekali ini saja ya?” Sementara Kakashi terus bujuk dan jelaskan rencananya, Sasuke sekilas baca isi surat undangan itu.

Nara Shikamaru & Sabaku Temari

“Gimana, jadi pergi kan?” tanya Kakashi sekali lagi.

Sret―Dengan sigap tiba-tiba Sasuke lekas berdiri dari duduknya. Wajahnya tampak serius memandang Kakashi. “TIDAK!” akhirnya dengan tegas dia putuskan, “Aku tak akan datang ke acara itu. Cari saja orang lain, ok?!” Dan kemudian si bungsu Uchiha itupun dengan cueknya pergi.

“EKH?! Kok gitu sih. Oi, Sasu!” bentak Kakashi. “Pokoknya kau harus datang!”

sasuke-cuek

Alunan musik klasik menambah kesan elegan pesta yang terselenggara di ballroom hotel mewah itu. Sederet buffet meja panjang menyajikan aneka rupa hidangan. Butler dan maid berkeliaran, menyajikan nampan berisi champagne dan cocktail pada para tamu undangan. Mereka yang hadir kebanyakan adalah orang-orang yang berasal dari kalangan atas dan terpandang. Saling sapa dan membicarakan hal-hal formal seputar kerja dan keluarga. Semuanya bergembira menikmati suasana, kecuali seorang pemuda yang tampak tak nyaman dengan semua ini. Bukan sekedar jas mewah dengan leher kancing kemeja terikat dasi tapi juga keramaian disekitarnya inipun membuatnya gerah.

sasuke_tuxedo_by_ryuumii424-d34pbjw

“Tersenyumlah Sasuke, bersikaplah ramah pada mereka.” pinta Kakashi. “Wajahmu jangan kaku begitu dong.”

Onyx mendelik, memandang sebal ke arah pria di sampingnya yang sudah secerewet ibunya. “Oi, kenapa tidak kau lepaskan saja maskermu itu dan berikan senyummu sendiri pada mereka!”

“Hei, kau tahu dibalik ini aku juga sudah tersenyum.” jawab Kakashi dengan mata menyipit. Meski samar tapi garis bibirnya terlihat terangkat dibalik kain berwarna gelap yang dipakainya menutupi setengah wajahnya.

kakashi_s_lookin__spiffy_by_asche_cloudbreaker-d5xx1qu

OMG. Sasuke tepok jidatnya sendiri. Apa penampilan Kakashi di acara formal begini tak terlihat mencurigakan? Tadinya Sasuke pikir mungkin pihak keamanan akan menendang mereka ke luar. Itu yang diharapkannya. Semoga bisa lepas dari pesta membosankan ini. Tapi sayangnya tak terjadi. Sumpah. Bila sekarang bukan sedang di muka umum, Sasuke sudah ingin jitak kepala berhelaian perak itu keras-keras. Berani dan pintar sekali senpai-nya ini berhasil menyeretnya datang setelah membujuk―mengancam―dirinya akan mengadukan kepindahan Sasuke ke mansion bobrok Haruno di Konoha.

“Nikmatilah pestanya, fufufu~…” ucap Kakashi usil. Dan dengan berat, Sasuke menghela nafasnya pasrah.

“Tak ada yang menarik.” pikirnya saat itu. Sampai onyx yang berkelana itupun menemukan sesuatu. Tiba-tiba dirinya terpana akan kehadiran seseorang.

Dia?

Keterikatan macam apa ini? Diluar rencana ternyata takdir itu bergerak sendiri. Seolah ada benang tak terlihat yang menghubungkan mereka. Tanpa disadari satu langkah yang diambil akan berakibat besar pada sesuatu yang tak terduga terjadi.

Berbalut gaun satin berwarna marun selutut dengan desain simple berpadu hiasan bunga mawar tersemat di rambut merah mudanya, semakin menambah kesan manis pada gadis yang dengan senyum cantiknya ucapkan selamat pada pasangan Temari dan Shikamaru.

Arigatou, Sakura-chan…” balas Temari sambil memeluk Sakura. “Terima kasih sudah datang di pesta pertunanganku, senangnya~…”

“Ah, iya sama-sama neechan. Selamat untuk kalian berdua. Kalian serasi sekali. Aku jadi iri.”

“Aduh, kalian juga kan serasi.” goda Temari, mengedipkan sebelah matanya pada Gaara. Dia tepuk-tepuk bahu adik bungsunya itu dan merapihkan dasi yang menambah kesan maskulin stelan jas yang dikenakannya. “Aah, Gaara ganteng. Sakura juga cantik. Kalian berdua berikutnya susul aku ya~…”

“Ahahaha, Temari-nee bisa aja.” balas Sakura, “Aku dan Gaara kan cuma teman.”

Jleb―dan jawaban jujur semacam itu terdengar begitu menusuk batin seseorang. Gaara hanya tersenyum kaku menanggapi ekspresi kakak perempuannya yang melohok tak percaya.

“Kau masih belum mendapatkannya?! What the hell…” bisik Temari sedikit marah, “Apa adikku begitu payah…” dengusnya tak percaya.

gaara-formal

“Sudah jangan dibahas, nikmati saja pestanya.”

“Iya, Pestanya ramai sekali. Pasti pas pernikahan nanti akan jauh lebih meriah dari ini.”

“Hoaamm, apanya yang meriah. Membosankan.” gumam Shikamaru dan langsung dihadiahi hentakan tajam ujung sepatu high heels yang Temari lancarkan pada sebelah kaki tunangannya itu. “Aaaww, apa yang kau lakukan?! Sakit tahu.”

“Kau ini, jangan tunjukkan kemalasanmu di hadapan tamu sekarang dong. Ini pesta pertunangan kita.” protes Temari.

“Hn, mendokusei. Perempuan memang merepotkan.”

“APA KAU BILANG?!” teriak Temari dengan suara toa-nya yang tak terkontrol. Bikin suasana sweatdrop sesaat, ketika tamu-tamu di sekitar mereka memerhatikan. Untung itu tak berlangsung lama. Dan Sakura malah terkikik sesaat melihat tingkah pasangan itu. Dua orang ini sebetulnya sangat serasi.

ShikaTema

“Senangnya melihat kakakmu bahagia, aku juga ikut bahagia. Wanita yang akan menikah itu tampak selalu jauh lebih mempesona.” ucap Sakura pada Gaara yang berdiri di sampingnya. Mereka menepi ke dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan malam Konoha dari lantai 25 hotel berbintang lima itu.

“Iya, itu karena Aneki bisa bersama orang yang dicintainya. Siapapun juga pasti akan merasa begitu.”

Sakura mengangguk setuju, “Kau benar.” pikirannya melayang mengingat Itachi. Apa kabarnya lelaki itu sekarang, perasaan rindu meluap ketika Sakura pun dulu merasa bahagia saat berada di sisi Itachi.

“Dan akupun sekarang bahagia.” lanjut Gaara, “Itu karena dirimu, Sakura.”

“Benarkah?” Sakura tertawa kecil, “Wah, senang sekali kalau aku bisa membuat orang lain bahagia.”

“Tapi… apa kau juga merasa bahagia bersamaku?” tanya Gaara, tampak serius. Diraihnya sebelah tangan Sakura dan menggenggamnya. Dalam diam, situasi seperti ini membuat jantung Sakura sedikit berdebar. Apa yang akan dilakukan Gaara, ketika kemudian dia sodorkan sebuah kotak hitam kecil kehadapannya. “Ini untukmu, terimalah.” ucap Gaara.

gaara

“Apa ini?” tanya gadis itu penasaran. Perlahan dia buka dan lihat isi kotaknya. Tampak sebuah kalung cantik berbentuk unik tulisan kanji ‘Ai’ bertabur manik batu rubi merah kecil. “Ga-Gaara ini…”

“Pengganti kalungmu yang hilang. Kau tak perlu lagi mencarinya. Lihatlah apa yang bisa kau temukan di hadapanmu kini, Sakura.”

“Hah, ha ha ha…” Sambil masih menatap tak percaya, Sakura tertawa kaku menanggapi ucapan Gaara. “Kau ini… kalau kau yang kasih, bukan aku yang temukan dong. Kalungku memang hilang, tapi aku tak akan berhenti mencarinya. Dan lagi… aku juga tak butuh pengganti, Gaara.”

“Ini bukan cuma soal kalung.” timpal Gaara, dia tahu Sakura barusan hanya pura-pura. Gadis itu coba menghindar. Tentu saja dia tak bodoh sampai tak mengerti maksud sesungguhnya Gaara memberikan kalung itu. “Buang semuanya, aku mohon.” lanjut lelaki berambut merah itu serius, “Aku minta kau tinggalkan masa lalumu, Sakura. Jangan sia-siakan dirimu dengan terus menyimpannya. Kau tahu kau berhak bahagia. Lihatlah ke depan, lihatlah aku. Kau tahu kan aku selama ini selalu menunggumu…”

“Gaara…”

“Aku mencintaimu.” ucap Gaara, dia utarakan perasaannya. “Dan kau tahu aku lebih mencintaimu dibanding orang itu kan? “

“Aaaaa―ta-tapi aku…”

“Aku tak peduli kalau kau tak suka. Jadi…” Gaara ambil kalung ‘Ai’ tersebut, dia buka kaitan rantainya dan memasangkannya di jenjang leher Sakura. “Kalau kau memang masih perlu waktu untuk menghapusnya, aku akan tetap rela menunggumu sambil berada di sampingmu.”

Sakura tertegun mendengarnya. Dia tatap pemuda tampan berambut merah itu kini tersipu malu di hadapannya. Gaara pasti merasa senang dan lega sekarang setelah sempat tegang tadi. Jujur dalam hati Sakura sendiri tersentuh dengan ucapan dan tindakan Gaara. Dia tahu selama ini Gaara setia menunggunya, menemaninya, mengerti dirinya. Dan seandainya Sakura bisa, dia ingin membalas kebaikan Gaara itu.

Apa dengan menerima kalung ‘Ai’ ini? Tapi aku kan…”

sasuke tuxedo

“Sakura.” suara baritone itu terdengar memanggil.

Refleks gadis itu menoleh. Entah kenapa belakangan kebetulan semacam ini sering terjadi. Selalu saja ditengah keraguan itu sosoknya muncul. “Sa-su-ke?!” kaget Sakura mendapati pemuda itu muncul di hadapannya. “Kenapa kau ada di sini?”

Sasuke tak menjawab, onyx-nya hanya bergulir menatap kalung baru pemberian Gaara yang dikenakan Sakura. Kemudian sudut bibir pemuda itu terangkat, antara tersenyum atau menyeringai, tapi itu membuat Sakura merasa tak enak hati padanya. Aneh memang, padahal apa hubungannya dengan Sasuke? Kenapa bertemu dengan lelaki itu sekarang Sakura seolah merasa tertangkap basah berbuat salah.

“Hn, baguslah, sudah ada yang baru. Kau tak butuh kalung lamamu? Kalau begitu untukku saja, ya?” ucap Sasuke sambil lalu.

“Ekh, Apa?! Apa kau menemukannya?” tanya Sakura hendak mengejar Sasuke, namun Gaara lekas menahannya.

“Sakura, tunggu! Itu sudah tak penting lagi kan?” tanya Gaara, terdengar cemas. “Kau sudah tak membutuhkannya…”

“Gaara, aku…” Sakura bingung. Bolak-balik dia melihat Gaara dan sosok lelaki berambut raven chicken butt itu menghilang di tengah kerumunan para tamu. Argh, bagaimana ini?, batin Sakura. “Sebentar saja, aku hanya ingin memastikannya.” Dan Sakura putuskan langkahnya mengejar Sasuke.

“Hei, Sasuke! Tunggu!” setengah berlari Sakura menghampiri. Ditahannya sebelah bahu pemuda itu dan memaksa dia menghadap padanya. “Katakan, apa kau temukan kalungku?”

“Hn.”

“Mana?” pinta Sakura. “Berikan padaku!”

“Hn.” Onyx kelam itu menatap dalam emerald, sementara jemari tangan Sasuke perlahan menelusuri rantai perak kalung yang menggantung di jenjang leher Sakura. “Kau sudah punya ini, kan?” sindirnya.

“Ugh,” Sakura mendengus. Jujur dia tak suka ketika Sasuke kembali menuduhnya. Dia masih tak bisa membaca maksud pikiran lelaki itu. Kenapa begitu mengintimidasinya? Tak suka? Cemburu? Atau apa?

Sret―Sakura langsung saja lepaskan kalung pemberian Gaara tadi. “Aku hanya butuh kalungku. Jadi berikan!” tegasnya.

“Sakura!” panggil Gaara dari belakang yang ternyata mengejarnya. Gadis itu menoleh dan melihat ekspresi terkejut sekaligus kecewa terpancar dari wajah Gaara memandang kalung pemberiannya yang sudah Sakura lepaskan.

“Ayo pergi! Ikut bersamaku dan akan kuberikan kalungmu.” ajak Sasuke, seraya menyambar lengan Sakura.

Grep―dan Gaara pun melakukan hal yang sama. “Jangan pergi, Sakura!”

“Ekh?!”

Kini gadis musim semi itu tertahan oleh dua orang lelaki yang menariknya ke dua sisi berlawanan. Emerald bolak-balik menatap mereka. Kemana dia sebaiknya ikut? Memilih Gaara, sabahat―orang terdekat―yang selama ini selalu setia mendampinginya. Atau Sasuke, siapa dia? Bukan siapa-siapa, hanya sosok yang baru masuk dalam kehidupannya dan sama sekali tak dia kenal. Harusnya Sakura melepaskan tangan Sasuke, kan? Tapi sementara dirinya bingung, dua lelaki tampan itu pun tak mau kalah saling menatap benci satu sama lain. Sampai ketika Sakura merasa cengkeraman tangan Sasuke mengendur, batinnya seakan ikut mencelos dan tak rela. Lalu tanpa sadar dia hempaskan sendiri tangannya lepas dari Gaara dan balas menggenggam erat tangan Sasuke.

Cring―tak sengaja kalung Gaara dalam genggaman tangan Sakura pun ikut terjatuh.

Gaara-by_emiily_chan

“Ma-maaf Gaara, aku―aku mau pulang.” ucap Sakura, akhirnya membuat pilihan yang mengembangkan senyuman tipis di wajah Sasuke dan ekspresi kecewa pada Gaara.

“Sakura?!” panggil Gaara. Jujur dalam hatinya dia ingin marah. Protes atas putusan Sakura yang dinilai tak wajar. Tapi dia juga tak bisa memaksanya tetap di sini. “Ok, kau mau pulang? Baiklah, akan aku antar.”

“Ti―”

“Tidak usah!” sela Sasuke cepat sebelum Sakura bicara, “Dia akan pulang bersamaku. Kami kan tinggal serumah. Jadi kau tak perlu repot.”

“Sasu…”

“Ayo!” ajak lelaki berambut raven itu lekas angkat kaki meninggalkan Gaara dan tatapan heran orang-orang di sekitar mereka.

“Eh Sasuke, kau mau kemana?” tanya Kakashi yang heran melihat Sasuke bergegas pergi.

“Pulang.” jawab Sasuke singkat.

“Kok pulang? Acaranya belum selesai. Kita masih punya urusan…”

“Kau lakukan saja sendiri.”

“EKH?! Sasuke!” panggil Kakashi berkali-kali namun tetap diabaikan. Sebenarnya ingin dia kejar tapi masih ada urusan yang harus dia selesaikan di tempat ini. “Ish, apa-apaan sih mereka?” gumam Kakashi tak mengerti. “Kenapa tiba-tiba pergi sambil bawa cewek segala? Terus kalau tak salah, gadis itu kan…”

kakashi___formal_attire_by_asche_cloudbreaker-d5xx5lq

Mengikuti langkah kaki yang menyeretnya pergi, perasaan Sakura bercampur aduk sekarang. Sesungguhnya dalam hati dia merasa bersalah ketika teringat Gaara. Keterlaluan memang, sikapnya yang menolak pemuda itu secara terang-terangan di muka umum tadi pasti telah menyakiti hatinya. Tapi cepat atau lambat Sakura sadari dia memang harus menegaskan perasaannya pada Gaara. Dan entah kenapa, kebimbangan dan rasa enggan yang semula mengganjal di hatinya bisa seketika sirna saat bersama Sasuke.

Ya, Sasuke…” Gadis itu tatap pemuda tampan di sampingnya, yang tampak acuh dengan ekspresi datar seperti biasa. “Kenapa aku lebih memilihmu?”

“Apa?” tanya Sasuke tiba-tiba, buat Sakura sedikit tersentak. Dia gulirkan manik onyx-nya menatap emerald yang sedari tadi memerhatikan. Sasuke merasa gadis itu seolah ingin mengatakan sesuatu padanya. Pasti. Ada yang ingin Sakura sampaikan.

“Kau―” Sakura mulai buka suara, “Uhm, mana kalungku. Aku sudah ikut bersamamu, kan?”

“Hn, nanti…”

“Heh, kau tak menipuku, kan?” tanya Sakura lagi, was-was.

Sasuke melirik Sakura, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Bagaimana kalau aku menipumu?”

“APA?!” kaget Sakura tak percaya, “Kau… ugh, beraninya…”

“Apa kau akan kembali lagi ke tempat tadi, eh?”

Sakura terdiam. Sambil jalan dia menoleh kembali ke belakang.

“Sana kalau mau kembali atau ikut bersamaku, terserah kau.” Sasuke lepaskan genggaman tangannya pada Sakura.

Jahat. Kejam. Misterius. Tak terbaca. Orang ini aneh. Itulah kesan yang Sakura lihat dalam diri Sasuke. Tapi yang lebih aneh lagi adalah dirinya sendiri. Kenapa meski dalam hatinya ada keraguan dan curiga, sudah tahu mungkin Sasuke hanya mempermainkan dan menipunya, kenapa Sakura masih ingin percaya dan memilih untuk mengikuti lekaki itu?

“Jadi kau ikut bersamaku?” tanya Sasuke.

Sakura gendikkan bahunya, “Ehm, yah apa boleh buat. Kalau kembali lagi pasti akan memalukan.”

“Hn.” Sasuke tersenyum miring memandang Sakura.

SasuSaku-is-Love-sasusaku-33426109-900-827

“Lalu yang tadi… kenapa kau bersikeras menantang Gaara dan mengajakku pulang bersama?” tanya Sakura. “Apa karena alasan sederhana seperti kita tinggal di satu mansion yang sama? Tindakanmu terlihat gegabah untuk orang setenang dirimu. Orang bisa salah paham mengira kita ada apa-apa.”

Mendengar perkataan itu, Sasuke malah terkekeh pelan. Bikin si gadis musim semi mengernyit heran.

“Aku serius. Kenapa malah tertawa?” protes Sakura. “Memangnya ada yang lucu, eh, kau mempermainkanku?!”

“Hn.” Sasuke menggeleng, “Tidak. Aku tak menertawakanmu. Aku juga serius. Aku hanya heran, bisa-bisanya kau menilai diriku ini setenang itu padahal apa bedanya dengan dirimu? Kenapa kau malah mempertanyakan alasan padaku, padahal kau sendiri yang memilih pergi bersamaku. Kau bisa saja coba menyangkal atau melepaskan diri dariku sekarang. Pulang sendiri setelah kita keluar dari tempat tadi. Tapi nyatanya…” Sasuke tersenyum tipis seraya mendelik menatap Sakura, “Kau malah tetap di sini bersamaku, kenapa?”

Ditanya seperti itu buat Sakura bergeming sesaat. Terus terang pertanyaan itupun sempat terlintas dalam pikirannya. “Entah.” jawabnya bingung sambil tersenyum kecut. Sakura palingkan wajahnya dari Sasuke dan berganti menunduk menatap ujung sepatunya. “Jujur, aku juga tak tahu. Entah kenapa aku selalu merasa kalau kau itu berbeda. Sama. Berbeda tapi sama. Sama tapi berbeda. Tch, aku juga tak mengerti. Rasanya aneh. Hanya saja, mungkin, kalau boleh kubilang sepertinya aku memang sedikit tertarik padamu. Aku hanya ingin percaya kalau kau akan benar-benar mengembalikan kalungku. Dan lagi, habisnya kau itu mirip sekali dengan dia…” gumam Sakura pelan.

“Dia?”

Ting

Pintu lift terbuka, memperlihatkan ruangan sempit yang kosong. Pembicaraan mereka jeda sesaat ketika dua remaja pink dan raven itupun melangkah masuk kedalam. Sasuke segera menekan tombol basement, dan masing-masing dari mereka memilih diam berdiri di sudut ruang yang berbeda.

“Siapa?” tanya Sasuke, kembali pada pembicaraan. Dia lirik gadis musim semi itu dengan pandangan terpicing. “Tadi kau sangka aku mirip dengan siapa?”

“Kekasihku.” jawab Sakura terus terang, ekspresi wajahnya berubah muram. Dia gigiti bibir bawahnya ketika segala kenangan tentang Itachi kembali muncul di pikiran. “―mantan kekasihku.” lanjutnya dengan suara tercekat. ‘Itachi-nii…’ batinnya.

Sret

Sejurus kemudian Sasuke sudah berada di hadapan Sakura. Gadis itu tersentak kaget. Dirinya kini terpojok di sudut ruang besi sempit itu dengan tangan Sasuke yang bersandar di dekat kepalanya.

“Mirip apanya?” desis Sasuke, pelan namun tajam. “Apa bagian dariku yang mirip dengannya?”

Takut. Harusnya itu hal normal yang akan dirasakan orang lain kala ditatap onyx yang justru lebih tampak mengintimidasi. Tapi tidak halnya dengan apa yang dirasakan Sakura sekarang. Sebaliknya dia justru malah yakin hal inilah yang membuat pria di hadapannya kini semakin terlihat mirip dengan orang itu.

“Kau…” emerald balas menatap intens, “―karena kulihat matamu seolah menyimpan kesedihan dan luka yang sama seperti dia.”

Eh?!

Kesedihan dan luka yang sama?” batin Sasuke mencelos mendengar jawaban Sakura.

“Kalian tampak seperti sedang menyembunyikan sesuatu.” lanjut Sakura, “Berpura-pura kuat padahal menderita. Benar kan?”

Sedih. Luka. Derita. Apa yang kakakku alamai dulu karenamu. Apa yang aku alami sekarang juga karenamu, sialan?!” emosi Sasuke kembali memanas.

“Aargh―” Sakura meringis ketika dirasakan tangan Sasuke sedikit menjambak helaian rambut merah mudanya. “Apa yang kau lakukan? Sakit. Lepas!”

“Kesedihan dan luka seperti apa menurutmu yang aku miliki?” geram Sasuke, tak mengubris permintaan Sakura. Tapi perlahan dia kendurkan kembali cengkeramannya, walau tetap tak melepaskan tangan dari rambut merah muda itu. “Kau tahu apa tentangku?!” tanyanya sambil menyentak. “Apa yang kusembunyikan?! Apa yang buatku menderita?! Kau tak tahu apa-apa, Sa-ku-ra!”

“Hei, tapi aku hanyaammph―”

sasuke_sakura___taking_you_by_supremedarkqueen-d5axi0n

Diluar dugaan sesuatu terjadi. Emerald itu membulat tatkala menatap sepasang onyx yang kini terpejam. Tubuh Sakura bergeming. Dia tahu apa yang sedang dilakukan pemuda berambut raven itu padanya sekarang saat jarak antara mereka berdua mendadak terhapuskan. Refleks dia coba berontak. Mendorong jauh Sasuke, tapi tubuh pemuda itu terlalu kuat, terlebih lagi dirinya tersudut. Sakura berniat melayangkan tangannya untuk menampar, memukul lelaki itu. Tapi anehnya dia tak bisa. Ketika disela pangutan tanpa sadar Sasuke berbisik,

“Ini salahmu. Kau yang salah!”

Kalimat itu begitu merasuk ke dalam diri Sakura. Membangkitkan kepingan kenangannya bersama Itachi.

…#flashback

“Ini salahmu, kau yang salah!” teriak Sakura histeris, dicengkeramnya kemeja baju pemuda berambut raven berkuncir panjang itu erat-erat. “Aku menderita tapi kenapa kau tak peduli? Kakaaak… kak Itachi… kau jahat… jahat… jahat…” rengeknya sambil menangis.

“Sakura…” Itachi gamang, dia coba hibur gadis itu meski tak tahu apa yang sebaiknya sekarang dia lakukan. Hanya bisa mengusap helaian rambut merah muda itu seraya menghapus jejak cairan bening di pipi ranumnya. “Maaf, aku tahu aku yang salah. Aku memang jahat. Makanya aku…”

“Kalau gitu cintai aku!” sela Sakura, “Akan kumaafkan asal kau cintai aku seperti kau mencintainya kak! Sedikit sajaaaa… aku mohon… hik, hik, kak Itachi~…” Sakura angkat wajahnya, menatap nanar pemuda itu. “Bohong juga tak apa…” lanjutnya seraya berjinjit dan mengincar bibir Itachi. “Katakan kalau kau mencintaiku…”

…#end of flashback

Sakura menatap kelopak onyx yang tertutup di hadapannya. Melihat helaian rambut raven Sasuke, dan merasakan sentuhan hangat nan basah dibibirnya kini, entah kenapa semua itu semakin merasuk jauh ke bagian terdalam dirinya. Mengeluarkan segala gejolak yang membuatnya rindu. Padahal Sakura tahu, dia sadar Sasuke bukanlah orang itu. Tapi kenapa di satu sisi dia merasa lain. Suka. Suka. Sakura suka dengan perlakuan ini.

Sama. Rasanya sama. Mirip. Mereka benar-benar mirip. Itachi-nii… Aku rindu. Aku ingin bertemu denganmu. Merasakan sentuhanmu seperti dulu. Ingin kau ada di sini!” pekik batin Sakura. Dan gadis itupun tanpa ragu membalas kecupan Sasuke sama dalamnya.

Deg!

Apa yang kau lakukan Sasuke?!” dalam hati pemuda itu merutuk seketika dia sadar dengan apa yang sedang dilakukannya. Kenapa malah jadi begini? Harusnya dia jambak, tampar, pukul gadis berambut merah muda itu, itulah tujuannya memojokkan Sakura tadi. Bukan malah menciumnya seperti ini. Tapi jujur saja, sesaat tadi dia lihat tatapan emerald itu, kepolosan dan kelembutan didalamnya, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Dirinya berpikir apa hal itu pulalah yang dulu menjerat Itachi terperangkap pada pesona gadis ini? Sebodoh apa kakaknya? Semenarik apa seorang Haruno Sakura? Apa yang dimilikinya? Semakin dia bertanya, semakin dia ingin tahu.

Benci. Muak. Aku makin ingin menghancurkannya. Tapi perlahan, ya perlahan-lahan saja kulakukan. Lakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padamu, kak. Mencintainya dengan kemunafikan.”

sasusaku-kiss

Itachi-nii…” bisik kedua orang itu bersamaan dalam hati yang teriris sakit. “Maaf, aku harus melakukannya.”

Untukmu yang sudah dicampakan olehnya―batin Sasuke.

Untukmu yang sudah pergi mencampakankubatin Sakura.

Seraya mereka perdalam kecupan itu, saling merapat dalam satu pelukan, tangan Sakura yang semula menahan dada Sasuke agar tak terlalu bersentuhan kini malah mencengkeram erat. Sementara jemari Sasuke kian menyusup membelai lembut bagian sensitif jenjang leher Sakura. Keduanya larut sesaat dalam french kiss menghanyutkan segala perasaan dan kenangan, sampai…

Ting―pintu lift terbuka.

Sebelum rombongan orang-orang di luar pintu sana menerobos masuk kedalam, dengan cepat Sasuke menarik tangan Sakura dan membawanya keluar seolah tak terjadi apa-apa. Ya, berusaha tak menimbulkan kecurigaan. Padahal keterkejutan, perasaan ganjal, debaran asing masih menyelimuti keduanya selama dalam diam di sepanjang perjalanan pulang. Kejadian singkat dan tak terduga tadi sungguh mengubah banyak hal dalam diri keduanya yang sedang mencari alasan dan jawaban.

Kenapa aku melakukannya?

Apa yang harus aku lakukan?

sasusaku-different

Tiba di mansion, dua orang itu kini sampai di persimpangan tangga menuju lantai rumah masing-masing. Enggan bicara dan saling menatap. Pun ketika Sakura tak ingat dengan janji Sasuke yang akan memberikan kembali kalungnya. Karena kejadian tadi, jantung gadis itu masih berdetak tak normal. Membuat perasaannya tak nyaman.

Ini aneh. Orang itu aneh. Kenapa Sasuke? Siapa dia?”

Belakangan ini Sakura memang sering memikirkannya. Kehadiran Sasuke dalam hidupnya seolah telah mengubah banyak hal. Ketika dirasa orang itu terlalu banyak mengingatkannya dengan sosok Itachi. Bukan sekedar fisik, kadang perilaku mereka sama. Meski Sasuke tak seceria dan sehangat Itachi dalam bersikap, tapi Sakura selalu melihat bayangan mantan kekasih Uchiha-nya itu dalam diri si Hatake misterius.

Itulah yang Sakura kira, ketika mereka terkadang tak sengaja bertemu. Saling sapa di tangga, berpapasan di jalan, bicara basa-basi, diam-diam melirik dan memerhatikan. Sedikit demi sedikit Sakura mulai penasaran dan ingin lebih akrab untuk mengenalnya. Sakura merasa ada sesuatu dalam diri pemuda itu yang memikatnya, menarik untuk ditelusuri. Lalu apa itu yang membuatnya tanpa sadar membalas cumbuan Sasuke? Semakin Sakura pikirkan, semakin tak dia mengerti.

“Sakura!” panggil Sasuke, menghentikan langkah gadis yang tergesa-gesa sendiri menghindarinya. “Kalungmu…”

Mendengar soal kalung, Sakura kembali menoleh ke arah Sasuke. Dalam diam dilihatnya sebelah tangan pemuda itu terkepal, teracung padanya dan perlahan terbuka. “Maaf, aku tak punya.”

Jleb

Sungguh seperti ada sesuatu yang menusuk tajam terhunus menembus diri Sakura ketika mendengar perkataan Sasuke. Emerald itu membulat dan degup jantung yang semula berdebar kencang kini makin berburu. Lebih dari apapun kini Sakura merasa dirinya benar-benar tolol. Tolol setolol-tololnya. Orang itu… Sasuke… orang yang dihadapannya ternyata benar-benar jahat. Sakura letakkan tangannya diatas dada, seakan tengah menahan dan mencengkram suatu benda yang asalnya selalu menggantung di sana. Kesal. Hatinya sakit sekali diperlakukan seperti ini oleh Sasuke.

“Ka-kau benar-benar menipuku…” gumam Sakura terbata.

“Hn.” Sasuke palingkan wajahnya dan kembali bersikap tak peduli. Dia mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. “Rasakan, bagaimana jika kau dipermainkan, Sakura!” batin Sasuke merasa puas.

Dia pikir ini sudah selesai? Tidak…

Tap… tap… tap… Brukk

Sasuke tersungkur. Dia meringis ketika didorong Sakura hingga jatuh terjerembab dari tangga. Baru saja mau bangkit dan protes, leher kemeja Sasuke keburu dicengkram erat Sakura.

“BRENGSEK!” maki Sakura kesal. “Sialan kau, beraninya menipuku! Setelah apa yang kau perbuat kau pikir kau bisa mempermainkanku, heh?!”

“Lepas!” bentak Sasuke seraya hempaskan tangan Sakura, “Apa yang kau lakukan, kau sendiri yang bodoh, baka!”

“Ya, aku yang bodoh. Makanya aku marah. Sasuke, ini semua salahmu. Karena kau membawaku pergi, aku jadi menolak Gaara. Kau juga sembarangan menciumku. Kau menipuku. Kau hilangkan kalungku…”

“Heh, itu bukan salahku.” protes Sasuke.

“Tanggung jawab. Kau harus mengganti semuanya. Kau juga sudah buat aku jadi begini, karena itu…” grep―kembali Sakura cengkram baju Sasuke dan menatapnya intens. “Kau harus mau pacaran denganku.” tawar gadis itu tiba-tiba. Dia lontarkan pernyataan yang baik dirinya maupun Sasuke sendiri merasa aneh dan sesaat terperangah.

“Pacaran?” Sasuke mengulangi kata itu, balas menatap Sakura.

Perlahan Sakura melepaskan Sasuke, berangsur melunak. Wajah marah dan tegangnya secepat kilat berubah sedih dan muram. Sakura sandarkan dirinya di sisi tembok tangga, menunduk dan Sasuke lihat beberapa tetes air mata jatuh mengenai kulit tangannya. Kenapa Sakura menangis?

sasusaku-daijoubu-sobani iru kara

“Kau tahu betapa menyedihkannya diriku? Orang-orang bilang aku terperangkap dalam masa lalu. Aku terlalu bodoh untuk terus menyimpannya. Dalam hatiku ada penyesalan. Ada dosa yang dulu pernah aku lakukan sampai buat orang lain terluka. Kalung itu sangat berharga bagiku. Satu-satunya benda kenanganku dengan dia.” ucap Sakura meracau, bicara hal yang tak dimengerti Sasuke. Tapi yang bisa dia tanggap semua cerita tadi berhubungan dengan Itachi. “Lalu kau datang. Kau Sasuke, orang yang benar-benar mirip dengannya. Aku merasa aku sudah gila. Melihatmu membuatku makin mengharapkan dia kembali, hik-hik-hik…”

Dia tak akan kembali.” batin Sasuke pun sama mengenang Itachi. “Jadi itu sebabnya kau ingin pacaran denganku?” tanya Sasuke. “Kau pikir aku bisa dimanfaatkan, begitu?” Sasuke angkat perlahan dagu Sakura dan melihat emerald itu menatapnya nanar, “Jadi kau tertarik padaku karena aku mirip dengan dia?”

“He’eh…” Sakura mengangguk-angguk.

“Lalu apa yang kau inginkan dengan pacaran denganku?” tanya Sasuke, dia sapukan jemarinya menyeka air mata Sakura.

“Kenangan, hik-hik… aku inginkan kembali semua kenanganku bersama Itachi. Karena aku menyedihkan. Karena aku tak bisa membuang perasaanku terhadapnya. Aku selalu menyimpan segala rindu dan sakitku sendiri. Selalu. Tak pernah bisa aku luapkan. Tapi bersamamu… saat aku melihatmu, saat kita bertemu aku selalu merasa seperti dia telah kembali. Aku munafik dan juga egois. Jujur, aku suka padamu karena kau mengingatkanku padanya. Kau Sasuke Hatake, dan Itachi Uchiha kalian berdua terlalu mirip. Padahal aku tahu kau itu bukan dia. Aku tahu kalian berbeda. Tapi aku kadang merasa sama. Makanya tadi aku bilang aku ingin pacaran, sebenarnya itu karena aku ingin memanfaatkanmu!” lanjut Sakura. Rasanya batinnya sudah tak tahan lagi. Selalu saja, entah sejak kapan di hadapan Sasuke dia pasti hancurkan sendiri pertahanan dirinya. Selalu dengan mudah mengungkapkan segala rasa tentang Itachi. “Jadilah dia untukku. Jadilah penggantinya. Jadilah Itachi. Jadilah kekasihku…”

“Hn, sou ka…” gumam Sasuke, dengan ekspresi datar masih menatap Sakura yang tampak memburu nafasnya usai dia tumpahkan emosi berisi kejujuran. “Karena lelaki itu kau sampai memohon padaku seperti ini?”

“Ha ha ha ha…” Sakura tertawa miris. “Ya begitulah. Kenapa? Aku terlihat munafik? Egois? Brengsek, bukan? Kau tak suka?” tanya Sakura dan langsung dijawab Sasuke dengan anggukan pelan.

“Ya, aku tak suka.” kata Sasuke, “Tapi aku tertarik.” lanjutnya, bikin jidat lebar si gadis musim semi itu kini mengernyit heran.

“Tertarik apa maksudmu?”

“Aku jadi penasaran.” jawab Sasuke, perlahan dia ambil sebelah tangan Sakura, mengelus dan mengecup jemarinya lembut sebelum dia letakkan di pipinya. “Aku ingin tahu semuanya, Sakura. Aku ingin lebih mengenalmu, masa lalumu, semua tentang hubunganmu dengan orang itu, siapa sesungguhnya dirimu, aku penasaran. Perlihatkan padaku.” Sekilas Sasuke tersenyum tipis. Senyum penuh makna tersembunyi, “Kalau itu memang maumu, ingin kita pacaran, ayo kita sama-sama saling memanfaatkan.”

“Ekh?!”

“Aku bersedia menjadi kekasihmu.”

.

.

.

=0=0=0=0=0=0=

TBC… Next to Chapter 5

=0=0=0=0=0=0=

sasusaku-your back


A/N:

Yo minna… (^-^)/

Huaaa… kangen nih lama ga ketemu setelah sekian lama hiatus. Pertama-tama aku ingin ucapkan ‘MAAF’ yang sebesar-besarnya karena keterlambatan update FF ini. Dikarenakan ada masalah pekerjaan di dunia nyata dan pribadi yang terkena WB tingkat akut. Jujur, kemarin-kemarin sempat mengalami masa-masa keterpurukan dalam menulis FF. Tapi syukurlah sekarang sudah lumayan bisa teratasi walau mungkin masih ada banyak hambatan buat updet chapter selanjutnya. Tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya semoga tidak mengecewakan.

Special buat Hebi, orang yang berkata padaku, “Karya yang bagus itu adalah karya yang selesai, bukan karya yang dipuji atau dianggap sempurna. Yarubeki koto ga yaru. Cukup lakukan apa yang menurut kamu harus kamu lakukan.” Karena dia aku bisa bangkit, dan berpikir untuk menyelesaikan semuanya. Dan tentu saja selain dia juga karena kalian semua. Terima kasih buat yang udah mengharapkan kelanjutan FF ini dan selalu kasih support supaya aku bisa terus lanjut \(^o^)/ *kecup dan peluk satu-satu*

Aah, iya buat yang penasaran lanjutannya, tunggu aja ya. Berikut ini aku kasih spoiler. Bagi yang gak suka ama spoiler, langsung aja scroll dan jangan lupa tinggalkan jejak komen/review pada tempat yang disediakan bila ada yang ingin disampaikan (^-^)/

Special Thanks to:

Sslove’yumiki, Sarah Zakila, Judy Maxwell, Raditiya, chii, Jile Sing, Marshanti Lisbania Gratia, qori, zoggakyu, Nadya Harvard, Cindy Oktaviani, miyunyun, Itha, nurjanah, Sandra Pangestu, Eguchi Kimizaky, Rei-reixki-ki, Nakaumi–chan, Uchira Shawol Tripel S, Jile Sing, Iyyak (๑’⌣’๑)づ♥, ♚♬Ghina Tamami♬♚ (@ghina_pink), chii, YaYaK, syalsyabila.a.p. , amliya, fathir, Rirrin Dhika, Sanny S’llalu, Syariffaturahma, Rikaa Angel Uchihaa, Nazuka Rhenny Uchiha AkasunaGaara, Hoshii Hideyashu AkasuNamikaze, Azu-chan No Hanako

And

All of You Silent Readers

(Temen-temen di FB yang namanya gak bisa di rekap satu-satu, maaf klo ada yang terlewat, bilang ya ;) )


~SPOILER~

“Siapa dia sebenarnya? Kenapa Sasuke bisa ada di pesta kemarin?”

“Uchiha? Ada seorang Uchiha yang datang?”

“APA?! Kalian pacaran?!”

“Jangan percaya padanya. Perasaanku bilang dia bukan orang baik-baik.”

“Kau cemburu…”

“Heh, singkirkan tanganmu darinya!”

“Dengar, aku tak tahu apa tujuanmu tapi aku tak akan biarkan kau menyakiti Sakura sedikitpun!”

“Ini pilihanku, aku percaya pada Sasuke!”

“Gadis bodoh…”

“Ayo kita kencan!”

“Jangan protes kalau kau kuperlakukan seperti Itachi.”

“Hn, terserah…”

“Eh, orang itu…” Sakura berbalik dan percepat langkahnya kembali ke jalan tadi. Setengah batinnya berharap kalau dia tak salah lihat. Setengah lainnya merasa takut bagaimana kalau itu benar. Dan rasa penasaran membuatnya berani untuk mengulurkan tangan, menepuk bahu orang itu.

“Tunggu! Maaf…”

“Kau…”

“Kak Konan, bagaimana kabar Kak Itachi?”

Bahkan bila kau temukan hal lain yang berharga sebagai pengganti sesuatu yang hilang, kau akan selalu merasa kurang dan berbeda. Karena dia bukanlah ‘dia’.

Next to PRECIOUS Chapter 5 : IMPERFECT

\(^-^) See You ~ Komen? (^-^)/